
Massa aksi Reuni 212, Minggu (2/12). Via teleconference Rizieq Shihab menyerukan massa yang hadir untuk mengganti presiden di 2019.
JawaPos.com - Dalam Reuni Akbar 212 Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menyerukan, agar Indonesia punya presiden baru pada 2019 mendatang. Beberapa pihak menilai Rizieq telah melakukan pelanggaran kampanye gara-gara seruan itu.
Saat dikonfirmasi, Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta, Puadi mengatakan Rizieq takmelakukan pelanggaran kampanye. Pasalnya, merujuk Pasal 1 Ayat (27) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, peserta pemilu didefinisikan sebagai partai politik untuk pemilu anggota DPR, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, perseorangan untuk pemilu anggota DPD dan pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik untuk pemilu presiden dan wakil presiden.
Dalam hal ini, diketahui Rizieq bukan bagian dari peserta pemilu. Ia pun tidak masuk dalam struktur tim kampanye salah satu pasangan capres-cawapres 2019. Sehingga tidak ada pelanggaran yang dilakukan Rizieq.
"Nah, ini Habib Rizieq itu bukan tim kampanye, bukan kan," ujar Puadi kepada JawaPos.com, Senin (3/11).
"Sekarang apa yang mau kami proses? Makanya polisi juga binggung. Tidak ditemukan pelanggaran. Jadi, yang mau diolah pelanggaranya itu apa? Kami nggak bisa fitnah, berasumsi," tambahnya.
Sementara terkait peserta Aksi Reuni 212 yang juga berteriak Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden Indonesia di 2019, Puadi mengaku mereka bukanlah pelaksana, panita atapun tim kampanye salah satu pasangan capres-cawapres. Sehingga itu harus bisa dibedakan.
"Sementara ketentuan pidana ada bahasanya. Bukan setiap orang, tapi setiap pelaksana, dan peserta kampanye dan tim kampanye yang melanggar," katanya.
Sebelumnya, Rizieq Shihab menyerukan kepada para peserta Reuni Akbar 212 untuk memilih presiden yang berasal dari hasil ijtima ulama. Rizieq yang berbicara lewat sambungan telepon dari Makkah memang tidak menyebutkan nama.
"Saya mengajak semua yang ada di sini untuk berubah, dan perubahan yang paling dekat adalah 2019 ganti presiden," kata Rizieq.
Dalam seruannya, Rizieq menyebut jangan memilih presiden yang berasal dari partai yang mendukung penista agama. Adapun, presiden pilihan ijtima ulama adalah Prabowo Subianto. Sebab, ijtima ulama yang digagas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) memang merekomendasikan Prabowo dalam Pilpres 2019.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
