Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2020 | 19.16 WIB

Tahun Ajaran Baru, Kemendikbud Harus Koordinasi Pemda Soal Kurikulum

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Praktisi pendidikan sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal mengatakan Kemendikbud harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah atau dinas pendidikan. Tujuannya adalah implementasi kurikulum di tengah pandemi harus berjalan dengan baik.

"Apalagi tahun pelajaran baru tinggal sekitar dua pekan lagi," kata Nur Rizal, Kamis (25/6).

Dia mengatakan koordinasi itu penting supaya seluruh daerah bisa kompak menjalankan kurikulum di tengah pandemi. Rizal mengatakan apapun model kurikulumnya, tidak boleh hanya mengejar ketuntasan materi atau beban kurikulum. Sebab jika hanya mengejar ketuntasan beban kurikulum, siswa malah semakin stres.

Selama tiga bulan terakhir pembelajaran dari rumah, Rizal mengatakan orientasi pembelajaran masih mengejar ketuntasan materi. Sehingga pembelajaran jarak jauh didominasi pemberitan tugas kepada siswa.

"Siswa tidak bertemu dengan temannya itu sudah stres. Apalagi setiap hari diberikan tugas," jelasnya.

Muatan penting yang harus dibangun dalam pembelajaran di tengah pandemi ini menurut dia adalah menumbuhkan empati pada siswa. Kemudian kemandirian belajar serta tanggung jawab. Muatan seperti itu tidak bisa dibangun dengan sebatas memberikan tugas setiap hari. Apalagi saat ini orangtua sudah mulai bekerja. Sehingga tidak bisa mendampingin anak secara intensif.

Selain itu Rizal mengatakan pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan dengan banyak cara. "Jangan dianggap harus pakai Zoom, Webex, atau Google Meet," katanya. Tetapi bisa dengan menyebar materi pembelajaran lewat WhatsApp (WA). Atau bisa juga dengan cara guru kunjung atau belajar bersama di balai desa atau sejenisnya.

Terkait ketentuan belajar tatap muka di zona hijau saja, Rizal berhara pemda atau lembaga pendidikan mematuhinya. Sebab ketentuan itu semata-mata untuk keselamatan siswa. Apalagi jika sampai anak-anak sakit karena Covid-19, mereka harus didampingi orang tua. Sehingga efeknya cukup panjang.

Rizal mengatakan pembelajaran di era normal baru adalah blended learning. Atau perpaduan online dan offline atau tatap muka. Dengan catatan hanya berlaku di zona hijau Covid-19. Pertimbangan model blended learning karena harus beradaptasi dengan jumlah siswa yang dibolehkan berkumpul.

Dia mengingatkan syarat blended learning bukan sekadar memindah isi buku melalui tugas online. Tetapi pembelajarannya harus fleksibel, memenuhi kebutuhan siswa, dan sesuai dengan potensi minat bakat siswa yang berbeda-beda. Kemudian memberikan ruang lebar bagi siswa untuk banyak melakukan refleksi dalam belajar. Sehingga terbangun rasa kepemilikan siswa terhadap proses belajarnya sendiri atau mandiri.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=7EOKPMZvfqE

https://www.youtube.com/watch?v=hMO48-gB5WI

https://www.youtube.com/watch?v=tkiyPoh5HBY

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore