
Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek Nunuk Suryani menjelaskan soal kompetensi guru (19/11). Hilmi Setiawan/Jawa Pos
JawaPos.com – Skor atau nilai kompetensi guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sebab rata-rata skor kompetensi guru berada di angka 50,64 poin. Ironisnya skor kompetensi guru PNS di bawah guru tetap yayasan yang mengajar di sekolah swasta.
Kemendikbudristek membagi pengukuran kompetensi guru itu dalam dua kelompok. Yaitu kelompok guru yang sudah sarjana (S1) dan kelompok yang belum sarjana. Skor kompetensi guru PNS yang sudah sarjana adalah 51,43 poin. Kemudian guru tetap yayasan mendapatkan skor 52,82 poin, guru honorer daerah (honda) skornya 48,21 poin, dan guru tidak tetap (GTT) memiliki skor 49,19 poin.
Selanjutnya untuk kelompok guru PNS yang belum sarjana mendapatkan skor 41,45 poin. Guru tetap yayasan belum sarjana mendapatkan skor 46 poin, honorer daerah belum sarjana mendapatkan skor 41,92 poin dan guru tidak tetap (GTT) belum sarjana mendapatkan 42,63 poin.
Peta skor kompetensi guru tersebut Dipaparkan Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek Nunuk Suryani dalam forum Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) ke-XIII. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) secara virtual Jumat (19/11).
’’Kompetensi guru masih perlu ada peningkatan,’’ kata Nunuk. Dia mengakui pengukuran kompetensi tersebut memang bukan benar-benar potret kondisi guru. Skor tersebut merupakan hasil dari Uji Kompetensi Guru (UKG) yang digelar 2015 lalu. Dia juga mengatakan, skor itu hanya menilai kompetensi pedagogik guru saja. Sementara itu guru memiliki kompetensi-kompetensi yang lain. Diantaranya adalah kompetensi sosial.
Nunuk menjelaskan Kemendikbudristek tidak tinggal diam dengan kondisi kompetensi guru tersebut. Menurutnya program Merdeka Belajar merupakan salah satu upaya Kemendikbud untuk mengatasi tantangan kompetensi guru itu.
Dalam konteks Merdeka Belajar, guru menjadi fasilitator dalam kegiatan belajar. Sedangkan pada konteks pembelajaran sebelumnya, guru cenderung sebagai penyampai informasi atau ilmu pengetahuan. Kemudian pelatihan guru berdasarkan praktik bukan berdasarkan teori seperti selama ini.
Pada forum yang sama Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan guru adalah bagian dari ekosistem pendidikan. Jadi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tidak bisa hanya dibebankan kepada guru saja.
’’Biasanya guru disalahkan. Padahal banyak persoalan yang harus dibenahi supaya ekosistem pendidikan jadi lebih baik,’’ tutur dia. Unifah mengingatkan Indonesia saat ini masih mengalami masalah kekurangan guru. Diperkirakan jumlah kekurangan guru mencapai 1,3 juta orang. Unifah mengatakan sosok guru yang dibutuhkan murid sekarang adalah, guru yang bisa mendorong mereka untuk belajar mandiri.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
