
Djoko Agus Purwanto
Bagi Prof Dr Djoko Agus Purwanto Apt MSi, teh tak sekadar digunakan untuk minuman. Dengan memanfaatkan teknologi, Djoko berhasil menciptakan teh yang berkhasiat untuk mengatasi kanker.
SAAT ditemui Selasa lalu (7/2) di ruang Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Airlangga, Djoko tengah bersantai. Dengan senyum ramah, Djoko mempersilakan Jawa Pos masuk ke ruangan berukuran 5 x 3 meter itu.
Beranjak dari kursi, Djoko bergegas menuju lemari kayu berwarna cokelat tua. Pria kelahiran 5 Agustus 1959 tersebut lantas mengeluarkan sekotak Medi Tea. ”Medi Tea ini merupakan produk penelitian saya. Keunggulannya bisa mengobati kanker,” terangnya.
Penyembuhan kanker dengan teh hijau sengaja dipilih. Apalagi, penyakit itu kian marak diderita masyarakat. Bahkan, kanker termasuk sepuluh penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia.
Djoko menyatakan, penelitian teh hijau untuk antikanker tersebut dimulai pada 1996. Saat itu, Djoko masih menuntaskan program doktoral. Tak dimungkiri, ketertarikan Djoko meneliti teh bermula dari rasa penasaran.
Teh dikonsumsi manusia sejak ribuan tahun dan dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit. Khasiat tersebut lantas dibuktikan melalui serangkaian penelitian. Dari riset itu, Djoko membuktikan bahwa teh memiliki sifat antioksidan dari senyawa epigalokatekin galat yang bagus untuk kesehatan. ”Sejak itu, saya tertarik meneliti dan berfokus pada penyembuhan kanker dengan memanfaatkan sifat antioksidan itu,” ungkap ayah tiga putra tersebut.
Djoko memilih berbagai jenis dan merek teh untuk diuji efektivitasnya. Dari berbagai jenis teh seperti teh hitam, hijau, dan oolong, Djoko menemukan bahwa teh hijau memiliki kandungan terbaik. Artinya, menurut guru besar ilmu kimia farmasi itu, kandungan epigalokatekin galat teh hijau paling tinggi. Bahkan, kandungan epigalokatekin galat teh hijau memiliki sifat antioksidan seratus kali lipat jika dibandingkan dengan antioksidan yang dimiliki vitamin C dan 25 kali lipat dari vitamin E.
Djoko menjelaskan, melalui mekanisme antioksidan itu, prinsip penyembuhan kanker melalui teh hijau tidak langsung berjalan. Ada peningkatan sistem imun dalam tubuh. ”Dengan sistem ini, perlahan sel kanker dalam tubuh hancur,” kata pria yang berpengalaman menggunakan teh hijau untuk mengatasi kanker sang istri, Andriani Primardiana.
Ketua LP3 Unair tersebut menuturkan, untuk meningkatkan kandungan epigalokatekin galat dalam teh racikannya, dirinya menggunakan mekanisme ekstraksi. Yakni, pemisahan zat untuk mendapatkan zat yang diinginkan. Selain mendapatkan bahan yang diinginkan, kandungan murni bahan dapat diperoleh secara efisien.
Jika dibandingkan dengan pengolahan teh pada umumnya, khasiat teh juga akan lebih tinggi melalui proses ekstraksi. ”Teh yang ada di pasaran hanya mengandung sedikit khasiat karena pembuatannya tak selektif,” tutur pria yang pernah melakukan penelitian tentang teh hijau di Kobe Women’s University, Jepang, tersebut.
Dia mencontohkan produk Medi Tea. Karena melalui proses ekstraksi, dalam takaran 2 gram, khasiatnya sebanding dengan sepuluh gelas teh. ”Perbandingannya bisa seperti satu sendok dengan satu botol penuh teh kering,” terangnya.
Guru besar yang pernah menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya itu menyatakan, penelitian teh hijau akan dikembangkan dengan berbagai formula tambahan. Misalnya, menggunakan secang. Bahan tersebut dipilih karena memiliki khasiat serupa dengan teh hijau. Salah satunya, kaya antioksidan. ”Dengan tambahan secang, warna teh lebih menarik. Secang juga membuat teh memiliki sensasi hangat dalam tubuh,” ungkapnya. (elo/c18/nda/sep/JPG)

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
