Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2020 | 01.19 WIB

Soal Kisruh Aplikasi Belajar, Pejabat Kemendikbud Bilang Begini

Kemendikbud - Image

Kemendikbud

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan penjelasan lebih lanjut terkait penunjukkan aplikasi yang tergabung dalam kuota belajar. Karena dari 19 aplikasi yang disarankan terdapat beberapa aplikasi yang dinilai tidak kredibel dan tidak dikenali oleh warga pendidikan.

"Kira-kira di bulan Juni-Juli, kami bersama operator seluler melakukan riset soal aplikasi apa yang sering dipakai selama era pandemi ini. Kuisioner itu kami sebar ke 500 ribu guru dan orang tua siswa," ujar Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin), Hasan Chabibie dalam diskusi daring, Minggu (4/10).

Dari riset tersebut, kata Hasan, yang paling tinggi penggunaannya adalah WhatsApp, di mana guru sering berinteraksi lewat siswanya melalui media tersebut. Lalu, yang paling banyak dipakai selanjutnya adalah video conferrence dan learning management system (LMS) dan sumber belajar lain, termasuk YouTube.

"Jadi akhirnya kami pada saat menyusun sekian aplikasi dalam daftar wait list, yang diberikan kuota besar untuk bisa mengakses di sana terutama WA dan video conferrence itu kita masukkan di kuota belajar," imbuhnya.


Menurutnya, dari 19 aplikasi yang terdaftar saat ini tidaklah tetap. Bahkan, pihaknya sudah mendapat surat dari berbagai aplikator pendidikan untuk bisa tergabung dalam program tersebut.

"Contoh ada dari Jogja mereka buat aplikasi, dia bilang mohon difasilitasi dan aplikasinya itu dipakai hampir 20 ribu orang seluruh Indonesia. Itu dia masuk wait list (daftar tunggu)," jelasnya.

Untuk menjadikan aplikasi itu masuk dalam wait list program kuota gratis, web atau aplikasi itu harus memiliki domain, nomor ip serta harus berbicara system to system, untuk kemudian pada saat ngakses domain itu kuota gratisnya yang terserap.

"Jadi misalnya ada pengembang lokal yang memiliki aplikasi pembelajaran yang bagus dan itu bisa menambah khazanah dari daftar wait list ini, semakin banyak semakin bagus. Saya mikirnya akan nyari 100, emang yang dipakai (warga pendidikan) 5 atau 6 (aplikasi) yang paling gede, tapi ngga menutup kemungkinan yang lain itu dipakai, meskipun yang lain kecil," ujarnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore