
dr Sri Sikspiriani ketika sedang menangani pasien korban bencana.
JawaPos.com - Ada buah hatinya yang trauma. Rumah Sakit Anutapura tempatnya bekerja ambruk. Bisa saja dia mengungsi. Namun, sebagai dokter, dia memilih untuk tetap bekerja menyelamatkan pasien.
---
TIGA hari setelah gempa, Sri Sikspiriani, satu-satunya dokter ortopedi perempuan di Palu, ingin sekali pergi ke Rumah Sakit Anutapura. Sebagai dokter bedah tulang di rumah sakit itu, Nini -sapaannya- tergerak untuk segera membantu korban bencana. Gempa, tsunami, dan likuefaksi pasti telah memakan banyak korban.
Setelah mendapatkan izin dari suami, dia pergi ke rumah sakit. Aduh! Dua gedung baru rumah sakit tersebut runtuh. Padahal, belum sampai tiga tahun selesai dibangun. "Saya melihat korban banyak sekali. Terutama cedera tulang," tuturnya saat ditemui Jawa Pos Jumat (7/12).
Keadaan mereka memprihatinkan. Selain terluka, banyak yang datang dalam kondisi kotor oleh lumpur, debu, maupun pasir laut. "Pasien segitu banyaknya, lalu bagaimana saya menangani?" kenang perempuan 41 tahun itu.
Pada hari yang sama beberapa dokter dari luar Palu datang. Mereka membawa perlengkapan medis. Nini sedikit lebih tenang. Namun, ruang operasi di rumah sakit itu berada di tengah dan gempa masih kerap datang. Para tenaga medis tak berani menggunakan ruang tersebut. Akhirnya, dibuatlah ruang operasi darurat di instalasi gawat darurat (IGD).
Permasalahan lainnya, listrik mati. Alat-alat operasi tidak bisa berfungsi kalau tidak ada listrik. "Solusinya pakai genset. Tapi, operasi hanya bisa dilakukan setiap siang," ungkapnya. Untuk menghemat, cahaya di kamar operasi mengandalkan sinar matahari yang masuk lewat jendela IGD.
Solusi terpecahkan. Namun, Nini risau. Dia meninggalkan tiga anaknya yang masih kecil di rumah. Ada yang trauma gara-gara kejadian tersebut. Di sisi lain, panggilan sebagai dokter tak bisa dia elakkan lagi. "Teman-teman dokter menyarankan saya untuk tetap di rumah saja. Menjaga anak-anak," ucapnya. Akhirnya, hari itu dia tidak full praktik. Dia kembali ke rumah untuk menjaga anak-anaknya.
Keluarga Nini tinggal di tenda meski rumahnya tidak roboh. Satu minggu tanpa listrik. Tiap malam gelap. Air pun susah. Namun, dia merasa lebih beruntung karena tidak kekurangan makanan. Entah kebetulan atau apa, hampir seluruh warga di kompleks perumahan Nini masih memiliki bahan makanan pokok. Mereka pun bisa mandiri dalam membangun dapur umum. Mereka berbagi bahan makanan.
Empat hari setelah itu, dia kembali ke RS Anutapura untuk bertugas lagi. Menurut Nini, itu semua berkat dukungan suami. "Saya sempat ingin (mengungsi, Red) ke Makassar. Tapi, kata suami, 'Mengapa mau pergi? Orang lain datang ke sini untuk membantu,'" kenang Nini.
Awal kembali ke rumah sakit, Nini selalu membawa anak-anaknya. Sebagai ibu, dia tentu tidak tega meninggalkan buah hati yang masih kecil di rumah. "Apalagi kalau suami mau mengambil bantuan atau beli air, pasti anak-anak ditinggal," ungkapnya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Dia juga khawatir dengan kesehatan si kecil. Akhirnya, dia berbagi tugas dengan suami. Dia berada di rumah sakit hingga sore.
"Tetangga juga menawarkan untuk menitipkan anak-anak ke mereka, sementara suami mengambil bantuan," tuturnya. Jadi, secara bergantian ada yang menjaga anak-anak. Bukan hanya buah hati Nini, melainkan seluruh anak di kompleks perumahan tersebut. Mereka saling membantu.
Bencana 28 September lalu itu mungkin tak akan pernah dilupakan oleh Nini seumur hidupnya. Meski sejak kecil menyadari bahwa dirinya tinggal di daerah rawan gempa, tidak pernah tebersit bahwa bencana besar itu menghampiri tempat tinggalnya.
Yang dilakukan Nini dan perempuan lain di Sulteng memperlihatkan bagaimana mereka memilih untuk bangkit, berdiri, dan membantu sesama. Mungkin itu hal yang sangat sulit. Terlebih, Nini juga menjadi korban bencana. Namun, upaya tersebut membawa keyakinan bahwa keadaan pasti membaik.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
