Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Desember 2018 | 23.20 WIB

Mamak Baiq Suryati, Pemilik Rumah Singgah Lombok

Baiq Suryati yang berfoto di depan foto-foto - Image

Baiq Suryati yang berfoto di depan foto-foto

JawaPos.com - Usianya sudah lebih dari setengah abad. Tapi, Baiq Suryati punya semangat bagaikan anak usia 20-an tahun yang siap bertualang. Pemilik Rumah Singgah Lombok itu tidak bisa diam melihat korban gempa Lombok yang masih menderita.


---


TIGA bulan pascagempa pertama di Lombok, Rumah Singgah Lombok belumlah pulih. Hanya ada dua backpacker yang datang menginap. ''Sejak gempa itu Lombok masih sepi. Jarang ada yang berani nginap di sini,'' kata perempuan berusia 63 tahun itu.


Bangunan rumah tersebut sangat sederhana. Ada 4 kamar, 3 kamar mandi, dan 1 musala. Dindingnya berhias ratusan foto pengunjung yang pernah singgah. Tanda rumah itu penuh kenangan dan cerita.


Sejak 2013, Baiq dan suaminya, Ichwan Setiawan, memang membuka rumah pribadinya untuk umum. Siapa pun yang sedang berkunjung ke Lombok bisa menginap secara gratis. Syaratnya, menunjukkan kartu identitas dan mengisi buku tamu.


Kebanyakan yang menginap di tempat itu adalah backpacker. Sebab, dulu awalnya Iwan, putra pertama Baiq, tergabung dalam komunitas Lombok Backpacker. ''Mamak sih setuju aja. Tapi, dipotoin dulu tempatnya supaya mereka ndak menghayal seperti di hotel,'' ujar perempuan yang akrab disapa Mamak tersebut.


Terhitung sejak 2013-2017, ada sekitar 7 ribu orang yang singgah. Dia punya prinsip: menganggap siapa pun yang menginap di rumahnya sebagai saudara dan anaknya. ''Jadi, bisa dibayangkan berapa banyaknya anak Mamak se-Indonesia ini,'' ungkapnya, lantas tertawa.


Suka duka dilalui bersama ''anak-anaknya''. Termasuk saat terjadi gempa. Baiq masih ingat ketika gempa pertama di Lombok pada Agustus lalu. Saat itu ada sekitar 25 backpacker yang menginap. Mereka bersama-sama membangun tenda di depan rumah.


Kebetulan rumah itu terletak di gang buntu sehingga bebas dari orang yang berlalu-lalang. ''Kalau nggak dapet tenda, ya nyeker (tidur di luar tenda, Red). Malem-malem Mamak yang jadi tukang selimutin. Ada juga yang selow aja tidur di atas barang,'' kenangnya.


Tak tega banyak korban gempa, Mamak bersama anak-anaknya itu mengadakan aksi sosial. Mereka membangun dapur umum di kawasan Sembalun, Lombok Timur.


Setelah itu, mereka berinisiatif menggalang dana melalui rekening Rumah Singgah Lombok. ''Yang nyumbang ya anak-anak Mamak yang pernah ke sini,'' tuturnya. Donasi yang terkumpul lebih dari Rp 300 juta. Dana itu digunakan untuk membeli sembako, lantas disalurkan kepada korban gempa di 14 titik di Lombok Utara. Ada pula yang mengirim bantuan berupa ratusan tas, buku, dan iqra.


Meski kini sumbangan melalui rekening Rumah Singgah Lombok mulai berkurang, Mamak tak berpangku tangan. Sudah tiga bulan terakhir Mamak menghabiskan lebih banyak waktu di Masbagik, Lombok Timur. Di sana, dia membangun sebuah posko. Ada saja kegiatannya bersama warga sekitar. Misalnya, ikut membangun tempat mengaji, TK, dan PAUD. ''Jalan sambil bawa bantuan bisa 3-5 kilometer. Sering ada jalan yang terputus, kiri tebing, kanan bukit yang rawan longsor,'' ceritanya. Dia kembali ke Mataram sepekan atau dua pekan sekali.


Dana bantuan didapat dari beberapa komunitas atau sukarelawan yang datang bergantian. Kalaupun donasi kosong, Baiq tak kurang akal. Dia merogoh kantongnya sendiri. ''Kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 200 ribu dapat dari anak Mamak atau uang pensiunannya bapak (suaminya, Red). Ya, seadanya asal bisa buat bantu mereka,'' kata Mamak.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore