alexametrics

Dicecar soal People Power, Amien Rais: Maksudnya Bukan Mau Ganti Rezim

24 Mei 2019, 22:24:44 WIB

JawaPos.com – Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais telah usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya sebagai saksi untuk tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana. Pemeriksaan oleh penyidik Ditreskrimum berjalan selama kurang lebih 10 jam.

Amien mengaku dicecar 37 pertanyaan oleh penyidik. Seluruhnya terkait pengerahan atau gerakan massa (people power).

Ditanya penyidik, Amien mengatakan, people power tidak ada kaitannya dengan upaya menjatuhkan pemerintah atau menurunkan Presiden.

People power itu enteng-entengan. Jadi, bukan seperti people power yang mau mengganti rezim atau menjatuhkan presiden. Sama sekali bukan,” kata Amien di Mapolda Metro Jaya Jakarta, Jumat (24/5).

Anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu menjelaskan, gerakan massa atau people power dilindungi undang-undang. Akan tetapi, gerakan tersebut tidak merugikan negara maupun menimbulkan kehancuran.

“Saya mengatakan people power itu konstitusional, demokratis dan dijamin oleh HAM. Gerakan rakyat yang sampai menimbulkan kerugian, bentrok, atau kehancuran bagi negara itu jelas enggak boleh,” kata Amien.

Sementara itu, kuasa hukum Amien Rais, Ahmad Yani mengatakan, kliennya saat dimintai keterangan juga sempat menjelaskan sejarah people power berdasarkan pengalamannya. “Pak Amien menjelaskan sejarah people power di kita, mulai peralihan kekuasaan orde lama, orde baru, reformasi,” sambung Ahmad.

Ahmad menuturkan, literasi ilmu politik banyak sekali yang menbahas istilah people power. Amien, katanya, memastikan hal itu bukan semata-mata berarti mengganti rezim.

“Banyak sekali teori-teori dalam literatur ilmu politik dan ilmu hukum. Hak rakyat untuk menyatakan pendapatnya, baik dia sendiri-sendiri dan bersama-sama itu juga disebut people power,” lanjutnya.

Ahmad juga mengaku, penyidik sempat menanyakan keterkaitan antara pernyataan Amien dengan aksi 21-22 Mei. Namun, pihak Amien membantahnya karena memang tidak ada gerakan makar.

“Tadi ditanya apakah ada hubungan pernyataan pak Amien dengan aksi 21 dan 22, nggak ada hubungan, dan faktanya nggak ada,” pungkas Ahmad.

Diketahui Amien memenuhi panggilan kedua dari penyidik Polda Metro Jaya untuk menjadi saksi tersangka Eggi Sudjana. Dia diperiksa sejak pukul 10.27 WIB hingga 20.42 WIB.

Pada panggilan pertama 20 Mei lalu Amien sempat mangkir dengan alasan memiliki kesibukan lain. Eggi sendiri mulai ditahan sejak Selasa (14/5).

Dia diputuskan masuk Rumah Tahanan Polda Metro Jaya setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Dia akan ditahan sampai 20 hari ke depan.

Eggi pertama kali diperiksa sejak Senin (13/5) pada pukul 16.30 WIB. Pitra Romadoni menyebut kliennya telah ditangkap oleh polisi dengan dasar surat penangkapan B/7608/V/RES.1.24/2019/Ditreskrimum.

Eggi kemudian ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar oleh Polda Metro Jaya. Keputusan ini dikeluarkan setelah proses gelar perkara pada 7 Mei 2019.

Adanya kecukupan alat bukti seperti enam keterangan saksi, empat keterangan ahli, beberapa dokumen, petunjuk, dan kesesuaian alat bukti menjadi dasar penyidik menaikan status hukumnya. Eggi dilaporkan oleh caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), S. Dewi Ambarawati alias Dewi Tanjung ke Polda Metro Jaya atas tuduhan makar.

Laporan itu dibuat atas beredarnya video Eggi menyerukan people power dalam sebuah orasi. Selain Dewi, Supriyanto yang mengaku sebagai relawan dari Jokowi-Ma’ruf Center (Pro Jomac) juga turut melaporkan Eggi ke Bareskrim Polri, pada Jumat (19/4).

Laporannya teregister dengan nomor LP/B/0391/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 19 April 2019 dengan tuduhan penghasutan. Terkait status tersangkanya ini, Eggi pun telah mengajukan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads