alexametrics

Imam Nahrawi yang Dijerat Pasal Suap dan Gratifikasi

20 September 2019, 11:54:25 WIB

JawaPos.com – Imam Nahrawi harus bersiap dengan jeratan pasal berlapis. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa kasus yang membelit mantan menteri pemuda dan olahraga (Menpora) tersebut tidak hanya terkait dengan korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tahun anggaran 2018.

Dugaan aliran uang yang diterima Imam ditengarai juga berkaitan dengan Satlak Prima (Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas) yang dibubarkan pada 2017.

Ada juga gratifikasi terkait dengan jabatannya. ”Karena itu, pasal yang kami gunakan tidak hanya pasal suap, tapi juga ada pasal gratifikasi,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah kemarin (19/9).

Saat ini penyidik sudah menyiapkan rencana pemeriksaan politikus PKB tersebut. Namun, Febri belum menyebutkan tanggal pasti pemanggilan Imam. ”Tersangka akan kami periksa, tapi jadwal persisnya bergantung penyidik. Penyidik punya rencana siapa yang akan diperiksa terlebih dulu. Saksi, misalnya,” papar Febri.

Saat ini KPK telah melakukan pencegahan untuk bepergian ke luar negeri terhadap dua tersangka, yakni Imam dan Miftahul Ulum (aspri Imam).

Mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu mengingatkan, yang paling penting adalah tersangka kooperatif. ”Bahwa nanti kalau, misalnya, (ada) informasi dari masyarakat atau fakta-fakta baru yang terungkap, itu bisa klarifikasi lebih lanjut,” ujar Febri.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif berharap Imam Nahrawi akan memenuhi panggilan penyidik. Sebab, sebelum ditetapkan sebagai tersangka atau saat tahap penyelidikan, sekali pun dia tidak hadir meski telah dipanggil tiga kali.

Selain menyidik kasus, lanjut Laode, KPK melakukan sejumlah langkah pencegahan dan penyelamatan aset Kemenpora. Sebab, lembaga antirasuah menemukan dugaan korupsi terkait pengadaan barang atau alat-alat sebagai persiapan pesta olahraga. Alat-alat tersebut justru datang setelah event selesai. Namun, Laode tidak menyebutkan secara gamblang pesta olahraga apa yang dimaksud.

Pamit

Imam Nahrawi tengah berjabat tangan dengan jajaran Kemenpora usai memberi keterangan pers terkait pengunduran dirinya sebagai Menpora di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (19/9/2019). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Kurang dari 24 jam setelah ditetapkan sebagai tersangka, Imam Nahrawi menyatakan mundur dari jabatan Menpora. Kemarin dia menyampaikan permohonan pengunduran diri secara langsung kepada Presiden Joko Widodo.

”Tadi sudah disampaikan kepada saya surat pengunduran diri dari Menpora,” kata Jokowi setelah menerima pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Istana Merdeka.

Jokowi menyatakan menghormati proses hukum yang diambil KPK. Terkait kursi menteri yang ditinggalkan Imam, presiden sedang mempertimbangkan dua opsi: mengganti dengan menteri baru atau menunjuk pelaksana tugas. Sebab, masa tugas Kabinet Kerja tinggal sebulan. ”Kami pertimbangkan dalam sehari,” tuturnya.

Setelah menemui presiden, Imam langsung meluncur ke gedung Kemenpora. Tiba sekitar pukul 12.00, dia langsung menuju masjid untuk menunaikan salat Duhur. Setelah itu, dia mengadakan pertemuan dengan para pejabat eselon di auditorium Wisma Kemenpora.

Dalam pertemuan itu, Imam menyampaikan permohonan maaf sekaligus berpamitan. Imam kemudian menuju ruangannya untuk berkemas. Sekitar pukul 16.00 dia menemui awak media yang sudah menunggu di luar. ”Saya sudah melapor ke presiden dan menyerahkan surat pengunduran diri agar bisa fokus (menghadapi kasus, Red). Saya belum berpikir apa pun, kecuali mengikuti proses hukum yang ada,” ungkapnya.

Persiapan SEA Games

Mundurnya Imam Nahrawi dari kursi Menpora meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah. Persoalan pengurangan cabor PON XX/2020 Papua belum mencapai kata sepakat. Kemudian, kurang dari dua bulan lagi, skuad Merah Putih juga berlaga di SEA Games 2019 di Filipina.

Namun, di sela-sela pamitannya kemarin, Imam menjamin semua agenda itu tidak akan terganggu. Dia sudah menginstruksi seluruh staf untuk bisa membantu kelancaran event tersebut. ”CdM (chief de mission) sudah ditunjuk. Kami memberi fasilitas keberangkatan kontingen. Tolong kontrol dengan baik sehingga target SEA Games bisa terpenuhi dengan baik,” kata pria asal Bangkalan tersebut.

Untuk sementara, Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto akan melanjutkan kepemimpinan Imam. Gatot mengatakan, semua urusan cabor terkait pelatnas maupun anggaran tidak bakal terkena dampak mundurnya Imam. ”Ini kan tinggal menunggu November untuk diberangkatkan,” papar Gatot.

Rumah di Sidoarjo

Imam Nahrawi kerap pulang kampung ke Sidoarjo. Tepatnya di Desa Kedungcangkring, Dusun Magersari, Jabon. Rumah keluarga Imam berada di jalan utama Desa Kedungcangkring, tidak jauh dari gapura desa. Sekitar 100 meter.

Kemarin siang (19/9) rumah tersebut sepi. Pintu pagar terkunci rapat. Sekilas tak berpenghuni. Berkali-kali diketuk, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Rumah bercat putih itu memang tampak sepi. Namun, penghuninya tidak meninggalkan rumah. Sebab, daun jendela di lantai 2 dibiarkan terbuka. Hanya, kaca jendela tertutup tirai. Ulum, seorang warga, menuturkan, Minggu (15/9) kediaman itu ramai. Imam Nahrawi pulang ke rumah. ”Namun, hanya satu hari,” ujarnya. Dia tidak mengetahui pasti tujuan Imam pulang kala itu. ”Aktivitas di dalam rumah,” tuturnya.

Sejak menjabat Menpora, Imam memang memboyong keluarga ke Jakarta. Sehari-hari rumah megah di Jabon itu hanya ditempati dua keponakannya. ”Dua keponakan dari Bangkalan,” ucap Mukhammad Udin, warga yang lain.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : deb/far/gil/feb/aph/c10/c7/c19/fal



Close Ads