
Ilustrasi alutsista: TNI-AD Belanja Kendaraan Taktis dan Amunisi Roket ke Brasil
JawaPos.com - Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) utama dalam mewujudkan visi tentara sebagai Poros Maritim dan berkemampuan sekaligus sebagai tentara Poros Dirgantara dunia.
Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, pemerintah sejatinya sudah serius melakukan revolusi militer atau Revolutionary in Military Affairs (RMA). Saat ini kaidah-kaidah manajemen terkini mulai dipakai dalam pembenahan TNI.
Akan tetapi ada satu hal yang hampir 17 tahun belum juga terwujud dan dinilai sangat mendesak karena sesuai perintah undang-undang. Sehingga, presiden sebagai panglima tertinggi menjadi timpang memahami, mengendalikan aspek, serta kebijakan terkait pertahanan dan keamanan. Yakni, menetapkan Dewan Ketahanan Nasional sebagai National Security Council atau NSC.
"(Itu) agar presiden dalam melakukan dan memutuskan kebijakan pertahanan dan keamanan memiliki sumber yang reliable dan accountable sehingga dapat dilakukan secara tertintegrasi," ujar Connie kepada JawaPos.com beberapa waktu lalu.
Ia lebih sepakat jikalau anggaran pertahanan berdasar Optimum atau Maximum Essential Forces. Sebab, anggaran pertahanan harus berdasarkan AGHT atau ancaman gangguan tantangan dan hambatan.
"Garhan (anggaran pertahanan) kita dengan MEF itu tidak based on threats yang real. Sehingga projection serta gelar dan postur TNI tidak mencerminkan ready for who and what (siap untuk siapa dan apa)," tegas istri mantan perwira tinggi militer TNI Angkatan Darat Djaja Suparman itu.
Connie menilai anggaran militer harus bisa ditingkatkan setidaknya 5-7 persen dari Gross Domestic roduct (GDP). Pasalnya, visi Poros Maritim Dunia jelas berdampak merubah ruang serta doktrin tentara untuk dioperasikan.
Sebelum itu, harus diperjelas dulu kerangka kerja dan road map pertahanan dan keamanan nasional. Namun sayangnya hingga kini Indonesia belum juga memiliki NSC, serta RUU Keamanan Nasional juga terbengkalai. Kemudian perlu diperjelas bagaimana reformasi fungsi organisasi pertahanan.
"Seperti contoh order of battle kita masih disintegrated, antar kodam, koopsau, dan koopsal masih terpisah-pisah. Segera kita butuhkan adalah the real integrated armed forces," tutur Connie.
Memang, Indonesia saat ini tidak bisa diremehkan dengan menempati urutan ke 15 negara terkuat di dunia. Keahlian tempur TNI dan semangat juangnya terbukti bagus, meski dengan segala keterbatasan yang masih ada.
Tetapi, hal-hal tersebut jangan membuat Indonesia lupa diri. Harus diukur kembali semua kemampuan yang dimiliki hari ini oleh TNI.
"Sudah mampukah melawan menghadapi dan menyelesaikan semua AGHT dalam bentuk modern war di wilayah kedaulatan dan kawasan kita demi tercapainya kepentingan nasional kita?," tukas Connie.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022