
Sisa-sisa mobil yang hangus terbakar di kawasan siaga, Hom Hom, Wamena, Papua, Rabu (2/10/19). Sebanyak 32 orang dikabarkan tewas pasca kejadian pembakaran dan pembunuhan 23 September 2019. (HENDRA EKA/JAWA POS)
JawaPos.com - Jelang akhir tahun 2019, wilayah Timur Indonesia memanas. Kerusuhan pecah di Kota Wamena, Papua. Aksi unjuk rasa kelompok siswa berujung anarkis, pada Senin (23/9). Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri saat itu Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini aparat sudah turun ke lokasi guna menetralisir keadaan.
"Peristiwa di Wamena kejadian pagi tadi sudah ditangani aparat polri dan TNI. Dalam rangka untuk meredam masa kemudian memitigasi agar kerusuhan tersebut tidak meluas," ujar Dedi di kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (23/9).
Dedi menjelaskan, saat ini situasi di Wamena sudah mulai bisa dikendalikan. Pendekatan secara soft approach melalui tokoh agama, tokoh adat dan pemerintah daerah terus dilakukan. Dugaan awal, kerusuhan terjadi akibat penyebaran berita hoax bernada rasisme.
Namun, Dedi tidak menjelaskan detail konten rasisme tersebut. Aparat sendiri masih melakukan pengejaran kepada pelaku penyebar kabar bohong itu. "Hoaxnya tentang rasis, tetap. Penyebar hoaxnya sedang didalami oleh Ditsiber Bareskrim," tegasnya.
Atas dasar itu, polri menghimbau agar masyarakat Papua lebih teliti dalam menerima berita. Supaya tidak termakan hoax, yang berujung pada kerusuhan. Di sisi lain, adanya kabar Bandara Wamena ditutup sementara waktu akibat kerusuhan ini, Dedi belum membenarkannya.
"Belum bisa di update karena kapolres belum bisa dihubungi, masih negosiasi oleh massa agar kejadian tersebut tidak meluas. Mereka masuh fokus meredam kejadian di sana," terangnya.
Hanya saja, sudah dipastikan sejumlah fasilitas publik rusak akibat kerusuhan ini. Selain itu adapula beberapa ruko yang terbakar. "Untuk kantor pemerintahan ada juga yang diserang namun belum terklarifikasi milik siapa," pungkas Dedi.
Akibat kejadian itu, tercatat, 16 masyarakat sipil dipastikan ikut menjadi korban jiwa akibat ulah massa anarkis. "Iya sementata kita dapat 16 meninggal dunia masyarakat sipil," ungkap Kapendam XVII/Cendrawasih Letkol CPL Eko Daryanto saat dihubungi, Senin (23/9).
Eko menuturkan, masyarakat sipil yang meninggal ini akibat terjebak di ruko-ruko yang dibakar oleh massa. Sedangkan ada beberapa yang masih diidentifikasi penyeban kematiannya.
Photo
Sisa-sisa bangunan dan mobil yang hangus terbakar di kawasan siaga, Hom Hom, Wamena, Papua, Rabu (2/10/19). Sebanyak 32 orang dikabarkan tewas pasca kejadian pembakaran dan pembunuhan 23 September 2019. FOTO: HENDRA EKA
Aparat gabungan TNI-Polri sampai saat ini masih disiagakan di lokasi kerusuhan. Mereka mengantisipasi apabila terjadi aksi susulan. "Situasi sudah kondusif, sudah bisa diatasi. Wamena juga Jayapura ada 300an (massa) yang diamankan di Polda Papua," imbuh Eko.
Angka tersebut pun bertambah sehari kemudian menjadi 22 orang. "22 meninggal dunia. 1 meninggal di rumah sakit karena kritis," ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal saat dihubungi, Selasa (24/9). Hingga akhirnya korban jiwa dipastikan menjadi 26 orang. 22 di antaranya merupakan warga pendatang.
Kamal menjelaskan, penyebab para korban tewas masih didalami. Namun, ada beberapa diantaranya yang terpanggang hidup-hidup karena ruko maupun kiosnya dibakar oleh massa. "Mereka ada satu keluarga yang terjebak dibakar massa rumahnya,” terang Kamal.
Kapolri saat itu Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian mengatakan, berdasarkan data awal mengarah pada dugaan adanya berita bohong atau hoax yang tersebar di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Tito menjelaskan, isu yang beredar di kalangan siswa bahwa ada seorang guru yang menyebut anak didiknya dengan sebutan kera (monyet). Namun, setelah didalami, guru tersebut sebetulnya mengucapkan kata keras.
"Di hari yang sama (dengan kerusuhan di Expo Waena), pagi harinya di SMA PGRI ada isu bahwa ada seorang guru yang sedang mengajar menyampaikan pada muridnya bahwa kalau bicara keras," kata Tito dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (24/9).
"Terdengar, oleh murid ini kera. Sehingga dikatakan ke temannya bahwa dikatakan monyet. Padahal yang dikatakan 'jangan bicara keras'. Hanya saja mungkin tonenya, dan (huruf) S nya terdengar lemah," tambahnya.
Isu tersebut kemudian tersebar dengan cepat. Narasi yang dibangun yakni seorang guru bersikap rasis kepada anak didiknya. Kejadian ini kemudian berujung pada aksi demonstrasi para siswa di depan kantor Bupati Wamena.
Saat aksi berlangsung, diduga ada sejumlah oknum-oknum tak bertanggungjawab yang menyusup di tengah massa. Untuk berkamuflase, mereka berpenampilan dengan seragam siswa. Oknum ini mulai melakukan provokasi hingga terjadi kerusuhan.
"Dan kita yakin yang mengembangkannya adalah kelompok tadi, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggunakan segaram SMA. Kita sedang cari orangnya," ucap Tito.
Aparat gabungan saat itu sudah dengan cepat menenangkan massa. Namun, jumlah demonstran terlampau banyak mencapai 2000 orang. Sehingga sulit dinetralisir.
Massa kemudian langsung bersikap anarkis. Saling lempar batu hingga terjadi pembakaran sejumlah bangunan. Kantor Bupati Wamena juga tak luput dari amuk massa. "Ada yang melempar batu ke toko di sekitar, bakar kantor bupati, rusak fasilitas, mobil dan motor dibakar," jelas Tito.
Melihat aksi anarkis ini, petugas kemudian berusaha memukul mundur massa. Sejumlah massa yang diduga provokator maupun yang diduga perusuh diamankan untuk dimintai keterangan.
Kerusuhan di Papua ini bahkan menjalar ke warga Papua yang berada di Jawa maupun wilayah lainnya. Mahasiswa Papua di Malang, dan Surabaya, Jawa Timur bahkan dikabarkan mendapat intimidasi dari kelompok masyarakat tertentu.
Menurut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, kejadian itu memicu sejumlah mahasiswa Papua pulang kampung. Keputusan itu dibuat lantaran adanya kekhawatiran mendapat intimidasi. Sehingga para orang tua segera memberi dana kepada anak-anaknya sebagai bekal perjalanan pulang.
"Alasannya ada kekhawatiran tekanan atau perlakuan yang sewenang-wenang dari masyarakat sekitarnya terhadap anak-anak Papua yang sedang belajar," ujar Wiranto di Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (9/9).
Untuk meluruskan isu itu, aparat melakukan komunikasi dengan para orang tua. Menjelaskan bahwa kabar tersebut tidak benar. Isu itu dibuat hanya untuk propaganda semata.
Setelah mendapat kepastian itu, Wiranto menyebut para mahasiswa Papua menyesal telah kembali ke kampung halamannya. Mereka ingin eksodus ke luar Papua, kembali ke perantauan untuk menempuh pendidikan kembali.
"Atas prakarsa Panglima TNI disiapkan saat ini angkutan (pesawat, Red) Hercules itu bisa mengangkut mereka ke tempat mereka belajar. Dengan jaminan bahwa di tempat mereka belajar tidak akan ada tekanan apapun, tidak ada masyarakat kemudian akan mengganggu mereka," tambah Wiranto.
Mantan Panglima TNI itu memastikan, mahasiswa asalPapua akan mendapat hak sama dengan mahasiswa lainnya, baik dalam hal kehidupan sehari-hari, maupun akses pendidikan. Tidak boleh mereka dianggap sebagai orang asing.
Di sisi lain, Wiranto mengatakan, kondisi di Papua sudah kondusif. Meskipun tak terhindari masih ada upaya hasutan atau provokasi melalui selebaran gelap, berupa ajakan unjuk rasa susulan.
"Per 9 September dari laporan yang kita terima seluruh kondisi provinsi Papua dan Papua Barat aman kondusif, aktivitas sosial masyarakat kembali normal," pungkasnya.
Tak hanya itu, warga non Papua pun berangsur meninggal Papua. Mereka memilih meninggalkan Wamena karena khawatir ada kerusuhan susulan. Setelah kondisi dianggap aman, TNI berupaya memulangkan kembali para pengungsi ke Wamena, Papua. Kali ini TNI mengerahkan beberapa pesawat Hercules dan Helikopter untuk mendukung dan memfasilitasi seluruh pengungsi yang akan kembali ke wilayahnya masing-masing di Papua.
Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, di sela-sela kunjungannya melihat kondisi pengungsi di Posko Lanud Silas Papare, Sentani, Jayapura, Papua, Rabu (9/10) mendamping Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.
Hadi mengatakan, saat ini kondisi keamanan di Wamena sudah mulai berangsur kondusif. Oleh karena itu para pengungsi yang masih berada di Lanud Silas Papare diharapkan sudah dapat kembali ke rumah tinggalnya masing-masing di Wamena. “Alutsista yang digunakan untuk mendukung pengungsi adalah Hercules C-130 dan Helikopter milik TNI,” kata Hadi.
Hadi menuturkan, di Jayapura TNI akan menyiapkan tiga Hercules untuk mengangkut pengungsi kembali ke Wamena. “Untuk pengungsi yang berada di Ilaga akan kita gunakan Helikopter, dimana nanti akan berangkat dari Timika. Sedangkan yang berada di Merauke akan kita dukung Hercules untuk kembali ke Wamena,” terangnya.
Hadi menegaskan bahwa TNI dan Polri akan tetap menjaga stabilitas keamanan di wilayah Wamena termasuk juga yang berada di Oksibil serta ilaga. Penambahan pos pengamanan akan dilakukan sesuai permintaan dari beberapa tokoh masyarakat.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun oleh Kodam Cendrawasih tercatat 87 orang pengungsi telah diberangkatkan dari Baseops Lanud Silas Papare menuju Wamena menggunakan pesawat TNI AU C-130. Terdiri dari 59 dewasa, dan 29 anak-anak. Mereka merupakan pengungsi kerusuhan Wamena 23 September 2019.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
