alexametrics

Palu, Setahun setelah Gempa Besar Itu…

28 September 2019, 13:51:38 WIB

JawaPos.com – Hari ini, tepat setahun silam, gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong (Padagimo). Mengakibatkan gelombang tsunami dan likuefaksi yang total menewaskan 4.845 orang.

Kini, setelah setahun bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) itu terjadi, pembangunan kembali infrastruktur dan pemulihan masih lambat. Penderitaan warga terdampak bencana belum sepenuhnya usai.

Pantauan Jawa Pos sejak Rabu lalu (25/9) sampai kemarin (27/9) menunjukkan hal itu. Misalnya saja kondisi di sepanjang pantai taman ria dan Talise, Palu.

Tempat yang menjadi pusat rekreasi warga ibu kota Sulteng tersebut kini terlihat seperti kota mati. Sepanjang hari sepi. Kondisi hotel dan kafe yang reyot tersapu tsunami masih sama dengan setahun lalu.

Jalan di sepanjang pantai juga belum normal. Satu ruas jalan yang dibawa gelombang tsunami belum kembali. Jembatan kuning yang menjadi bangunan ikonik juga tetap patah tanpa bisa dilalui. Tiang listrik memang sudah tersambung di pesisir pantai. Tapi, penerangan jalan umum (PJU) masih padam.

Belum rampungnya pembangunan infrastruktur juga terlihat di Kelurahan Balaroa. Salah satu titik likuefaksi yang menenggelamkan ratusan rumah di Perumnas Balaroa. Akses ke lokasi sekitar Perumnas Balaroa berupa pasir dan batu.

Belum pulihnya infrastruktur juga dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Donggala. Kapal-kapal yang karam karena diterjang tsunami masih ditemui di pelabuhan. Juga banyak hunian sementara (huntara) di sekitar pelabuhan yang kosong.

Pantauan Jawa Pos, masih ada 12 huntara. Mayoritas penghuni masih trauma tinggal di pesisir pantai. Mereka memilih untuk tinggal di huntara yang disediakan di perbukitan. Sebagian lain masih mengungsi ke sanak saudara yang rumahnya jauh dari ancaman gelombang tsunami dan gempa.

Warga terdampak mengeluhkan kebutuhan hunian. Terutama hunian tetap (huntap) yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintah. Warga sudah jenuh tinggal di pengungsian untuk menunggu huntap mereka jadi.

”Saya jenuh. Tenda juga penuh dengan keluarga. Di tenda panas sekali,” tutur Bahmit, warga Perumnas Balaroa, Palu.

Soal huntap, Sekdaprov Sulteng Hidayat Lamakarate mengatakan, pemprov menargetkan membangun 6.050 unit rumah. Baik yang dibangun pemerintah pusat maupun pihak swasta. ”Data per 16 September mencatat, sudah ada 30 unit huntap yang selesai dibangun atas bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi,” terang dia.

Rencana tahun ini, bekerja sama dengan Jepang, Pemprov Sulteng menggarap sejumlah proyek. Salah satunya tanggul laut yang dibuat dari bebatuan besar untuk pemecah ombak.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : elo/c11/ttg



Close Ads