
EMPATI: KSAL Laksamana TNI Yudo Margono (kanan) dan Veronica Yudo Margono (kiri) bersama Winny Widayanti, istri almarhum Kolonel Laut (P) Harry Setyawan, komandan Satuan Kapal Selam di Koarmada II, di rumah duka, Gedangan, Sidoarjo, Selasa (27/4). (GUSLAN
JawaPos.com – TNI-AL memastikan tetap mengupayakan pengangkatan bagian-bagian KRI Nanggala-402 dari dasar Laut Utara Bali. Hingga kemarin (27/4), kapal-kapal milik AL maupun bantuan negara sahabat masih berada di lokasi pencarian.
Ada enam KRI yang masih melaksanakan pencarian dan penyelamatan di Laut Utara Bali. Yakni, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Pulau Rengat-771, KRI Soputan-923, KRI Rigel-933, KRI Bontang-907, dan KRI dr Soeharso-990. Kapal-kapal milik TNI-AL tersebut dibantu MV Swift Rescue dari Singapura dan MV Mega Bakti milik Malaysia. ”Jadi, sampai sekarang masih banyak KRI kita di sana,” ungkap Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muda TNI Muhammad Ali.
Kapal-kapal yang masih melaksanakan operasi di Laut Bali menemukan dan mengangkat beberapa benda dari dasar laut. ”Kami sudah mengangkat pakai ROV itu hidrofon dari kapal selam KRI Nanggala-402,” imbuhnya. Dari ROV itu pula, TNI-AL menemukan torpedo yang dibawa KRI Nanggala-402. Mereka juga sudah menerima beberapa foto terbaru kondisi di kedalaman 838 meter.
Ali menegaskan, upaya mengangkat bagian-bagian KRI Nanggala-402 akan terus dilakukan. Sejauh ini, hanya bagian-bagian kecil dengan berat 150 kilogram ke bawah yang bisa mereka angkat dari dasar laut. ”Kami akan koordinasikan untuk (mengangkat) yang lebih besar dari itu,” katanya. Sebagaimana niat KSAL Laksamana TNI Yudo Margono, instansinya ingin semua bagian yang bisa diangkat dari KRI Nanggala-402 dievakuasi. Termasuk bagian besar badan kapal selam buatan Jerman tersebut.
Perwira tinggi bintang dua TNI-AL itu menyatakan bahwa ada beberapa metode atau cara yang bisa saja dilakukan untuk mengangkat bagian besar KRI Nanggala-402. Mulai menggunakan balon udara khusus, memakai slang dan tangki pemberat pokok, sampai metode ditusuk, dikait, kemudian ditarik seperti yang dilakukan Rusia saat mengangkat kapal selam Kursk. ”Bermacam-macam, bergantung dari kedalaman, posisi kapal di kedalaman berapa,” imbuhnya. Semua itu memengaruhi tingkat kesulitan pengangkatan kapal selam dari dasar laut.
Indonesia juga membutuhkan bantuan negara lain apabila ingin mengangkat badan KRI Nanggala-402. Semua opsi pengangkatan berikut bantuan yang dibutuhkan masih dibicarakan TNI-AL. ”Kami diskusikan karena kedalamannya (KRI Nanggala-402 tenggelam) tidak dangkal. Itu termasuk dalam,” beber Ali. Menurut pria yang pernah mengawaki KRI Nanggala-402 itu, penyebab kecelakaan kapal selam di berbagai negara pun masih misterius. Sebab, proses audit maupun investigasi berlangsung lama. Hal serupa bukan tidak mungkin dirasakan TNI-AL yang baru kali pertama kehilangan kapal selam. Namun, Ali memastikan bahwa upaya mencari serta menemukan penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 tetap dilakukan.
Upaya tersebut tidak akan mereka lakukan sendiri. Dia memastikan bahwa TNI-AL akan melibatkan banyak pihak. Termasuk pakar-pakar kapal selam dari luar negeri. ”Para pakar kapal selam dan para ahli pembuat kapal selam. Jadi, itu ya. Bukan sekadar pengamat,” tegasnya.
Keterangan itu disampaikan Ali lantaran dirinya menilai ada beberapa pihak yang keliru serta tidak tepat saat menyampaikan informasi. Salah satunya terkait dengan muatan berlebih yang mengakibatkan KRI Nanggala-402 tenggelam. Dia menyatakan, kapal selam itu tidak kelebihan muatan. Jumlah 53 personel masih lebih sedikit ketimbang daya tampung maksimal kapal selam, yakni 57 personel. Bahkan, di antara total kapasitas torpedo delapan unit, hanya tiga unit yang dibawa KRI Nanggala saat tenggelam.
Menurut Ali, hal itu jelas menunjukkan bahwa KRI Nanggala tidak kelebihan muatan. ”Kapal selam itu (KRI Nanggala-402, Red) didesain untuk membawa delapan torpedo dengan berat masing-masing 2 ton,” terangnya. Artinya, masih banyak kapasitas yang bisa diisi lantaran KRI Nanggala-402 hanya memuat tiga torpedo ketika musibah terjadi.
Lebih lanjut, dia menyampaikan, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 belum bisa dipastikan. Diperlukan waktu dan audit serta investigasi mendalam untuk memastikan hal tersebut. Soal blackout maupun faktor alam masih sebatas dugaan. Belum ada data pasti yang bisa disebut sebagai penyebab kecelakaan. Termasuk laporan yang diterima TNI-AL berdasar deteksi Satelit Himawari. Laporan itu menyatakan bahwa terjadi internal wave di Laut Utara Bali saat KRI Nanggala-402 memulai tahap demi tahap peluncuran torpedo. Gelombang di bawah permukaan laut itu memang tidak tampak dari permukaan. Namun, pengaruhnya sangat terasa bagi objek-objek di bawah laut. Termasuk kapal selam.
KSAL Kunjungi Keluarga Dansatsel
Dukungan untuk keluarga Kolonel Harry Setyawan, komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Komando Armada (Koarmada) II yang gugur dalam tugas di kapal selam KRI Nanggala-402, terus berdatangan. Kemarin (27/4) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memui keluarga Harry. Dia bertemu langsung dengan istri Harry, Winny Widayanti, dan ibu Harry, Ida Farida.
Menurut Yudo, setelah memimpin operasi pencarian kapal selam secara langsung, sekarang waktunya bertemu dengan istri dan keluarga para awak kapal. Tidak hanya di Sidoarjo, tapi juga di Bogor dan Surabaya. ’’Nanti kami ada tabur bunga dan sebagainya,’’ kata Yudo setelah berjumpa dengan keluarga Harry.
Baca juga: TNI Tak Paksakan Diri Angkat KRI Nanggala
Pihak TNI-AL juga telah melakukan pendekatan dengan Dinas Psikologi AL untuk mendatangkan para senior guna memberikan support kepada keluarga para awak kapal selam. Dukungan semangat bagi para keluarga yang tengah berduka. ’’Kami maklumi psikologis masing-masing orang berbeda. Ada yang sudah siap ditinggal, ada belum. Itu hal wajar,’’ katanya. Karena itu, TNI-AL tetap melakukan pendampingan. Sampai mereka mengerti dan memahami situasi dan kondisi saat ini.
Selain itu, TNI-AL mendata putra dan putri para awak kapal selam. Mereka akan dibantu untuk memperoleh kemudahan akses sekolah dan bekerja. Banyak pihak yang telah berkomitmen memberikan kemudahan bagi mereka untuk meraih pendidikan dan pekerjaan yang diminati.
Sementara itu, hingga kemarin tim penyelamat terus memantau perkembangan terkini posisi kapal. Termasuk rencana melakukan pengangkatan kapal selam. Menurut Yudo, berdasar hasil pengecekan, hingga kemarin posisi kapal selam belum berubah. ’’Tetap kami pantau terus, tetap berjaga di situ. Ke depan sudah kami ajukan untuk melakukan pengangkatan,’’ ujarnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=u_CVVy_Uh_I

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
