Ilustrasi gempa M 7 guncang Tibet pada Jumat (23/10). (NBC News)
JawaPos.com - Sedikitnya 16 orang meninggal dunia, puluhan warga luka-luka, dan 339 rumah roboh, akibat bencana gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok, pada Kamis (22/10) pukul 21.33 WIB atau 22.33 waktu setempat.
Dosen Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia (UI) sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengatakan peristiwa di Tibet menjadi pengingat serius bagi Indonesia. Negara kepulauan ini memiliki lebih dari 400 segmen sumber gempa kerak dangkal yang sewaktu-waktu dapat memicu guncangan merusak.
Beberapa jalur sesar aktif yang perlu diwaspadai di antaranya Sesar Besar Sumatra, Sesar Palu-Koro, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Naik Flores, hingga Sesar Sorong.
Gempa dangkal yang berlokasi dekat kawasan pemukiman padat berpotensi menimbulkan kerusakan masif meskipun magnitudonya terbilang sedang.
Pelajaran krusial lainnya terletak pada kualitas konstruksi bangunan. Kerusakan fatal dan jatuhnya korban jiwa umumnya bukan disebabkan langsung oleh guncangan tanah, melainkan akibat tertimpa struktur bangunan yang roboh.
Selain faktor bangunan, fenomena di Tibet yang terisolasi di area pegunungan menunjukkan tingginya tantangan penanganan darurat di wilayah terpencil.
Kondisi serupa kerap dihadapi Indonesia, di mana akses darat yang terbatas dan risiko longsor dapat menghambat distribusi logistik serta penanganan medis.
Mengingat fenomena pergerakan lempeng tektonik tidak bisa dicegah maupun diprediksi waktu terjadinya, fokus utama keselamatan terletak pada penerapan standar bangunan tahan gempa, penataan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat.
"Tumbukan kedua lempeng yang berlangsung selama puluhan juta tahun telah membentuk Pegunungan Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet. Proses tersebut menyebabkan kerak bumi mengalami pemendekan, penebalan, pengangkatan, sekaligus pergeseran dan peregangan pada sejumlah bagian wilayah Tibet," ungkap Dr. Daryono, Sabtu (24/10).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022