Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Oktober 2026 | 03.04 WIB

Dampak MBG: BGN Klaim Tinggal 14 Persen Siswa yang Datang ke Sekolah dalam Kondisi Lapar

Kepala BGN Sudaryono bersama para wakil kepala dan sejumlah pejabat utama BGN. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Kepala BGN Sudaryono bersama para wakil kepala dan sejumlah pejabat utama BGN. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu mengurangi jumlah siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Saat ini persentase siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi tersebut berada di angka 14 persen.

Meski demikian, kata Sudaryono, kondisi tersebut perlu dipahami dalam konteks nasional, mengingat kebutuhan gizi anak di setiap daerah tidak sama. Karena itu, evaluasi program perlu mempertimbangkan kondisi peserta didik di berbagai wilayah, termasuk daerah yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi.

“Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia,” ungkap Sudaryono usai meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10).

Selain itu, dirinya juga mengeklaim MBG meningkatkan konsumsi protein anak menjadi hampir 80 persen.

"Konsumsi protein itu kemudian dengan MBG ini konsumsi protein anak-anak itu kemudian juga naik dari kalau nggak salah dari 30 atau 40, 30-an persen itu kemudian naik menjadi hampir 80 persen,” ujar Sudaryono 

Lebih dari sekadar menyediakan makanan, Sudaryono bilang MBG juga diharapkan menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang.

Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menilai bahwa pemahaman mengenai gizi belum merata di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan guru dalam pelaksanaan program dinilai penting untuk memperkuat edukasi gizi kepada peserta didik.

“Bukan kok kita ngasih makan gurunya bukan, tapi gurunya diberikan untuk dalam rangka edukasi gizi. Kenapa mesti ada serat, sayur, buah, kenapa mesti makan sayur, anak-anak kenapa nggak suka sayur harus suka sayur dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ia berharap edukasi melalui lingkungan sekolah dapat membantu anak memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Kebiasaan tersebut juga berpotensi terbawa hingga ke lingkungan keluarga.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore