Tim gabungan melakukan pemadaman Karhutla Bromo di kawasan Jemplang dengan menggunakan tangki air pemadam kebakaran. (BPBD Jatim)
JawaPos.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa kebakaran di lahan gambut menyebabkan asap pekat masih dirasakan masyarakat di beberapa daerah. Keluhan terus bermunculan meski lahan terbakar berdasar data pada pukul 15.09 WIB hari ini (13/10) tinggal 570 hektare.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Gambut merupakan material organik yang dapat terbakar secara perlahan di bawah permukaan tanah.
Kondisi itu membuat api mudah merambat masuk ke lapisan yang lebih dalam. Saat bersamaan, di permukaan lahan bisa saja kobaran api yang besar di lapisan dalam tidak tampak. Alhasil pembakaran terus terjadi dan menghasilkan asap dalam jumlah signifikan.
”Lahan gambut yang terus membara selama berhari-hari dapat menghasilkan asap secara berkelanjutan,” ucap Berton.
Karena itu, BNPB bersama personel gabungan dari berbagai instansi terus melakukan pemadaman. Salah satu metode yang ditempuh adalah pembasahan secara menyeluruh. Air disiramkan ke permukaan lahan yang terbakar hingga ke bagian lahan yang masih membara di dalam gambut.
”Karena itu, proses pembasahan disesuaikan dengan kondisi dan kedalaman gambut yang terbakar,” imbuhnya.
Selain itu, petugas pemadaman juga melakukan pendinginan berulang atau mop-up. Semua area yang sudah dipadamkan diperiksa dan dibasahi kembali apabila masih ditemukan titik panas. Proses itu sangat penting karena bara di dalam gambut dapat bertahan tanpa kobaran api yang terlihat.
”Kemudian kembali menyala ketika kondisi mengering atau mendapat suplai oksigen,” lanjut Berton.
Langkah berikutnya adalah memastikan ketersediaan air dan memperbaiki kondisi kelembapan gambut. Di lahan-lahan gambut yang rawan terbakar kembali, penanganan didukung ketersediaan sumber air, pembasahan berkelanjutan, dan pengelolaan tata air sesuai kondisi setempat.
Berton mengungkapkan bahwa sekat kanal atau infrastruktur pengendali air digunakan sesuai kebutuhan untuk membantu mempertahankan kelembapan gambut. Tidak sampai di situ, petugas memeriksa lokasi secara berkala, khususnya pada area dengan riwayat kebakaran berulang, kondisi gambut yang sangat kering, atau akses pemadaman yang terbatas.
Baca Juga:Jeritan Hati Korban Karhutla, Dikepung Asap dan Masuk IGD Sekeluarga, Tidur pun Harus Pakai Masker
”Apabila masih terdapat indikasi asap atau titik panas, tim harus segera melakukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan. Koordinasi dilakukan antara BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, pengelola konsesi, dan masyarakat sesuai kewenangan masing-masing,” terang dia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022