Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 03.33 WIB

Terbitkan Inpres 11 Tahun 2026, Presiden Prabowo Gandeng Masyarakat Adat Mitigasi Karhutla

Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI) - Image

Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 pada 31 Agustus lalu. Aturan yang keluar di tengah ganasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu menjadi momentum untuk menggandeng masyarakat adat dalam mitigasi karhutla.

Melalui inpres tersebut, Presiden Prabowo menekankan 2 hal. Pertama, memperkuat larangan pembukaan lahan dengan cara membakar. Kedua, mengajak para pengusaha terlibat aktif dalam pencegahan dan penanganan karhutla di Indonesia.

Menurut Asep Karsidi selaku pengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), apabila ketentuan yang memfasilitasi pembukaan lahan dengan pembakaran terbatas maksimal 2 hektare per kepala keluarga dilaksanakan tanpa pengawasan ketat, dampaknya sangat berbahaya.

Asep menekankan bahwa iklim bukan penyebab awal karhutla. Ada faktor penguat yang membuat api lebih mudah muncul, meluas, dan sulit dikendalikan oleh petugas pemadam yang dikerahkan oleh pemerintah. Yakni perilaku manusia terhadap hutan dan lahan.

”Termasuk pembukaan lahan dengan cara tebas bakar,” kata dia dikutip dari keterangan resmi pada Jumat (4/9).

Tidak heran, akademisi dari berbagai kalangan menilai bahwa penguatan larangan membuka lahan dengan cara membakar adalah momentum untuk menjadikan masyarakat adat berikut kearifan lokal masing-masing sebagai bagian dari solusi bersama dalam mitigasi karhutla.

Selain Asep, akademisi lain yang menyuarakan hal serupa adalah Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Anter Venus. Pria yang juga pakar komunikasi itu mengingatkan pentingnya komunikasi partisipatif dalam mitigasi karhutla.

Menurut Prof. Anter Venus, komunikasi itu harus dikemas dengan tetap menghargai keberadaan masyarakat adat dan kearifan lokalnya. Penekanannya pada tanggung jawab bersama dalam upaya mitigasi karhutla, terutama pencegahan sebelum api muncul.

Menurut Anter Venus, ajakan untuk melakukan pencegahan karhutla bisa dilakukan dengan cara yang lembut. Sesuai kearifan masyarakat setempat. Termasuk diantaranya mengikutsertakan para tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakat lewat penyampaian berbentuk edukasi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore