
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid turut merespons ramainya pembahasan mengenai konten kreator Ebem Martono yang merekam sejumlah usher pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 dengan menggunakan kacamata pintar.
Perekaman itu sendiri dilakukan tanpa izin dari pihak yang direkam. Meutya menegaskan bahwa tindakan merekam seseorang tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu dapat melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
"Terkait dengan perekaman tanpa izin terhadap seorang perempuan ini juga kita mendapat banyak masukan. Pada prinsipnya adalah kita perlu sekali mengingatkan bahwa ini pelanggaran terhadap Undang-Undang PDP yang pertama, dan yang kedua pelanggaran terhadap etika," kata Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (3/8).
Meutya menjelaskan bahwa wajah maupun citra diri seseorang dikategorikan sebagai data pribadi yang bersifat biometrik berdasarkan UU PDP. Karena memiliki karakteristik yang unik dan melekat pada identitas fisik setiap individu, data tersebut wajib mendapatkan perlindungan hukum.
Dengan demikian, aktivitas merekam wajah seseorang tanpa persetujuan dapat dikategorikan sebagai tindakan yang bertentangan dengan aturan perlindungan data pribadi yang berlaku di Indonesia.
Dalam peristiwa yang berkaitan dengan Ebem Martono, sejumlah usher tersebut pun telah meminta agar video yang menampilkan mereka dihapus. Mirisnya, permintaan tersebut malah dibalas dengan ancaman permintaan ganti rugi atas biaya produksi konten.
Kasus tersebut kemudian menuai sorotan luas di media sosial. Banyak warganet mengecam tindakan sang kreator konten dan menyatakan dukungan agar para usher menempuh penyelesaian melalui jalur hukum.
Menurut Meutya, alasan bahwa perekaman dilakukan di ruang publik tidak serta-merta menghilangkan kewajiban untuk menghormati hak privasi seseorang sebagaimana diatur dalam UU PDP. Dia menegaskan, tidak boleh ada orang yang merekam tanpa izin meskipun di ranah publik.
“Ini kasusnya kurang lebih sama dengan ketidaknyamanan yang disampaikan teman-teman misalnya yang sedang olahraga di jalan-jalan raya kemudian direkam tanpa izin. Jadi kita akan berlakukan ini sebagai hal yang sama," kata Meutya.
Baca Juga:Gajah Tunggal Unjuk Inovasi di GIIAS 2026, Dari Ban Harian hingga Ban EV Berkecepatan 496 Km/Jam
Selain berpotensi melanggar aturan hukum, Meutya juga menilai tindakan tersebut bertentangan dengan norma etika karena dapat mengganggu rasa aman, khususnya bagi perempuan saat berada di ruang publik. Menurutnya, produksi konten digital seharusnya tetap mengedepankan perlindungan terhadap kelompok yang rentan, termasuk perempuan dan anak-anak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Newcastle Jets vs Gamba Osaka di AFC Champions League Elite: Tim Tamu Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Lens vs Sporting Lisbon di Liga Champions: Kedua Tim Incar Kemenangan Beruntun
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan: The Imperial Guards Terancam Tertahan
Prediksi Skor Newcastle Jets vs Gamba Osaka: Pertahanan Rapuh Tuan Rumah Jadi Celah!
TPG Guru Non-ASN Belum Cair, PGRI Desak Kemendikdasmen dan Kemenkeu Berikan Kepastian
Prediksi Skor Pohang Steelers vs Johor Darul Ta’zim: Harimau Selatan Siap Terkam Tuan Rumah
Prediksi Skor Kyoto Sanga vs Ratchaburi: Duel Tim Pesakitan Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Al Sadd vs Al Hilal: The Blue Waves Siap Menang Tipis di Doha
Prediksi Susunan Pemain Arsenal vs Lille: Gabriel Magalhaes Tetap Andalan Lini Belakang The Gunners

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022