Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Juli 2026 | 16.51 WIB

Kemenhut Laporkan Dua Anak Harimau Sumatera yang Terancam Punah Terekam di Kerinci dalam Kondisi Sehat

Kamera jebak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merekam dua anak Harimau Sumatera di Kerinci dalam kondisi sehat. - Image

Kamera jebak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merekam dua anak Harimau Sumatera di Kerinci dalam kondisi sehat.

JawaPos.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali mencatat perkembangan positif dalam upaya pelestarian satwa liar di bentang alam Kerinci Seblat, Sumatera Barat. Hasil pemantauan menggunakan kamera jebak (camera trap) menunjukkan dua anak Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang pertama kali terdokumentasi pada September 2025 kembali terekam sepanjang 2026 dalam kondisi sehat dengan pertumbuhan yang dinilai sangat baik.

Temuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa proses reproduksi Harimau Sumatera masih berlangsung secara alami di habitatnya. Selain itu, keberhasilan kedua anak harimau bertahan hidup hingga memasuki fase remaja menjadi indikator penting bahwa habitat dan kawasan konservasi masih mampu menopang kelangsungan hidup salah satu satwa kunci Indonesia tersebut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, mengatakan hasil pemantauan ini menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi dan hutan penyangga secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak.

"Setiap anak harimau yang berhasil tumbuh dan bertahan hidup di alam liar adalah harapan bagi masa depan konservasi Indonesia. Kementerian Kehutanan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar Harimau Sumatra tetap menjadi bagian dari kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang," kata Satyawan dalam keterangannya, Kamis (29/7).

Pemantauan tersebut dilakukan oleh tim Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Yayasan Konservasi Hutan Harimau. Kamera jebak dipasang secara sistematis di sejumlah titik di bentang alam Kerinci Seblat untuk mendokumentasikan aktivitas satwa liar.

Tim peneliti memastikan individu yang terekam pada 2026 merupakan harimau yang sama dengan dokumentasi September 2025 melalui identifikasi pola loreng pada tubuh masing-masing harimau. Pola tersebut bersifat unik sehingga dapat digunakan sebagai penanda identitas setiap individu.

Ia menilai, keberhasilan ini menunjukkan pentingnya pemantauan jangka panjang sebagai dasar ilmiah dalam menilai kondisi populasi Harimau Sumatera. Berdasarkan data kamera jebak, tidak hanya memberikan gambaran mengenai jumlah individu, tetapi juga menyajikan informasi terkait keberhasilan reproduksi, tingkat kelangsungan hidup anak, hingga dinamika populasi di habitat alaminya.

Di sisi lain, Harimau Sumatera masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan liar, pemasangan jerat, degradasi habitat, hingga konflik antara manusia dan satwa liar.

Karena itu, Kementerian Kehutanan terus memperkuat berbagai strategi konservasi melalui peningkatan patroli pengamanan kawasan, penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar, pemantauan populasi berbasis sains, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Lebih lanjut, ia menegaskan keberhasilan pemantauan tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang selama ini konsisten mendukung perlindungan Harimau Sumatera beserta habitatnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore