
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (17/7/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara dinilai menjadi peringatan bahwa Indonesia membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada kekuasaan formal. Pernyataan itu disampaikan, Sudirman Said, di hadapan ratusan delegasi Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 yang digelar di Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Ia menegaskan, kepemimpinan yang lahir dari nilai, integritas, dan karakter harus menjadi fondasi untuk membawa bangsa keluar dari berbagai persoalan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para mahasiswa membangun kepemimpinan intrinsik, yakni kepemimpinan yang tidak bergantung pada jabatan atau kewenangan formal, melainkan pada kualitas pribadi yang dibentuk melalui proses panjang.
“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” kata Sudirman, Kamis (23/7).
Menurut Sudirman, berbagai indikator menunjukkan kondisi Indonesia belum sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti penurunan peringkat Indeks Persepsi Korupsi dalam satu dekade terakhir meski pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai sekitar 5 persen per tahun.
Selain itu, ketimpangan ekonomi masih tinggi, jumlah masyarakat miskin meningkat, dan sekitar 19 juta lulusan SMA tercatat tidak bekerja, tidak melanjutkan pendidikan, maupun mengikuti pelatihan.
Ia juga menyinggung gejolak di pasar keuangan sebagai refleksi lemahnya tata kelola pemerintahan. Menurutnya, meskipun Bank Indonesia berulang kali mengintervensi pasar melalui cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar rupiah, kondisi pasar modal domestik tetap mengalami tekanan.
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Meski menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, Sudirman tetap optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk bangkit. Ia mengingatkan, setiap momentum penting dalam sejarah bangsa, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kalangan terpelajar.
Menurutnya, generasi saat ini memiliki peluang yang jauh lebih besar dibanding generasi awal kebangkitan nasional. Jika pada 1908 jumlah mahasiswa pribumi hanya sekitar 178 orang, kini Indonesia memiliki sekitar 25 juta mahasiswa yang tersebar di hampir 3.000 perguruan tinggi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022