
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto. (Dok. Komdigi)
JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya mengandalkan regulasi maupun pembatasan akses media sosial. Peran keluarga, khususnya orang tua, bersama guru dan lingkungan pendidikan dinilai menjadi faktor penting dalam membekali anak agar mampu menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.
Karena itu, penguatan literasi digital terus didorong sebagai bagian dari implementasi kebijakan perlindungan anak di ruang digital. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada anak, tetapi juga kepada orang tua, pendidik, dan masyarakat agar mampu mendampingi anak menghadapi berbagai risiko di media sosial.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengatakan literasi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pemerintah melindungi anak di ruang digital.
"Komdigi terus memperkuat literasi digital sebagai bagian integral dari implementasi kebijakan perlindungan anak di ruang digital. Upaya ini dilakukan melalui edukasi yang menyasar anak, orang tua, pendidik, dan masyarakat, termasuk penguatan peran Pandu Literasi Digital sebagai agen edukasi di masyarakat, untuk meningkatkan kecakapan digital, kesadaran terhadap risiko di ruang digital, serta kemampuan mendampingi anak dalam menggunakan internet secara aman, sehat, dan bertanggung jawab," kata Bonifasius kepada JawaPos.com, Rabu (22/7).
Baca Juga:Mengenal Deep Tissue Massage, Terapi Pijat Paling Menyakitkan Tapi Paling Bagus untuk Tubuh
Untuk mendukung upaya tersebut, Komdigi melalui Pusat Pengembangan Literasi Digital terus menjalankan berbagai program edukasi, seperti halnya edukasi mengenai PP Tunas yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, seperti anak, orang tua, guru, tenaga kependidikan, serta kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.
“Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui penyusunan modul, pelatihan, webinar, dan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai perlindungan anak di ruang digital, keamanan digital, etika digital, serta penguatan peran keluarga dan satuan pendidikan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial secara aman, sehat, dan bertanggung jawab," ujarnya.
Menurut Bonifasius, regulasi dan literasi digital harus berjalan beriringan sehingga perlindungan anak tidak hanya bertumpu pada pembatasan akses media sosial. Dia memandang bahwa regulasi dan literasi digital merupakan dua instrumen yang saling melengkapi.
Selain memperkuat kebijakan perlindungan anak di ruang digital melalui PP Tunas, Komdigi juga mengoptimalkan peran Pandu Literasi Digital dalam menyelenggarakan pelatihan dan sosialisasi kepada anak, orang tua, guru, tenaga kependidikan, serta kelompok rentan agar seluruh ekosistem memiliki pemahaman, keterampilan, dan peran aktif dalam mendampingi anak menggunakan media sosial secara aman, sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
“Dengan demikian, perlindungan anak tidak hanya mengandalkan pembatasan akses, tetapi juga diperkuat melalui peningkatan kapasitas masyarakat," jelasnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
