
Anak-anak didorong menjadi pengamat sekaligus kreator di era global. (Istimewa)
JawaPos.com - Di era global yang semakin terhubung, anak-anak tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki keterampilan untuk memahami perbedaan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta melihat dunia dari berbagai perspektif.
Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi masa depan untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang terus berubah. Menjawab kebutuhan tersebut, Gosh! Kids menghadirkan konsep experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman yang memadukan perjalanan, budaya, dan kreativitas.
Melalui pendekatan ini, anak-anak diajak membangun wawasan global sejak usia dini sekaligus memperkuat hubungan dengan keluarga melalui pengalaman belajar yang dilakukan bersama. Salah satu program unggulannya adalah International Preschool Exchange, yang memberikan kesempatan bagi anak usia 3 hingga 6 tahun untuk mengikuti pengalaman belajar selama satu hingga tiga minggu di taman kanak-kanak luar negeri, seperti di Singapura dan Taiwan.
Dalam program ini, anak-anak belajar bersama siswa lokal, berinteraksi dengan bahasa dan budaya setempat, serta mengembangkan kemandirian dan rasa percaya diri melalui pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda.
Co-Founder Gosh! Kids Mathieu Beth Tan menuturkan, anak-anak belajar paling baik ketika mereka berada di lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka, bermain dan berinteraksi dengan teman-teman dari budaya yang berbeda.
”Pengalaman seperti ini mungkin terasa menantang pada awalnya, tetapi justru di sanalah mereka belajar membangun kemampuan beradaptasi dan ketangguhan, dua keterampilan yang sulit diperoleh hanya melalui ruang kelas atau buku pelajaran,” ujar Mathieu Beth Tan.
Baca Juga:Mendikdasmen Abdul Mu’ti Puji Model Pendidikan Holistik Pesantren, Siap Dukung GIHES 2026 di Jakarta
Dia menjelaskan, selama anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah, orang tua juga memiliki kesempatan untuk menikmati destinasi tersebut sebagai wisatawan. Seluruh anggota keluarga dapat memperoleh pengalaman yang bermakna sesuai dengan peran dan kebutuhan masing-masing.
Berbeda dengan liburan keluarga, lanjut Mathieu Beth Tan, setiap kegiatan dirancang agar orang tua dan anak dapat berpartisipasi secara aktif dalam setiap proses pembelajaran. Program ini dibangun di atas empat pilar utama, yaitu eksplorasi alam, kreativitas, pertukaran budaya, dan penguatan hubungan keluarga.
”Melalui berbagai pengalaman tersebut, anak-anak diajak keluar dari rutinitas digital mereka untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, berani menghadapi tantangan baru, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap dunia di sekelilingnya,” papar Mathieu Beth Tan.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
