
Ilustrasi penanganan ASF. (Dok. The Pig Site)
JawaPos.com – Indonesia mendatangkan 546 ekor bibit babi hidup asal Denmark sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan populasi babi nasional yang belum pulih sejak dihantam wabah African Swine Fever (ASF). Impor ini menjadi pengiriman pertama bibit babi hidup dari Denmark melalui kerja sama pemerintah kedua negara.
Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Sauland Sinaga, mengatakan langkah tersebut patut diapresiasi karena dapat membantu mengatasi defisit populasi babi yang masih mencapai sekitar 4 juta ekor per tahun akibat wabah ASF.
"Baru pertama kali Indonesia mengimpor bibit babi hidup dari Denmark. Ini menjadi awal yang baik untuk meningkatkan populasi. Akibat ASF, kita kehilangan sekitar 4 juta ekor babi per tahun dan hingga kini belum pulih," ujar Sauland, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan, proses impor merupakan hasil negosiasi antara pemerintah Indonesia dan Denmark. Setelah kesepakatan tercapai, pemerintah membuka kesempatan kepada pihak swasta, dan sebuah perusahaan asal Manado menjadi pihak yang merealisasikan impor 546 ekor bibit babi hidup tersebut.
Menurut Sauland, seluruh bibit yang didatangkan telah dinyatakan bebas dari berbagai penyakit, termasuk ASF. Hewan-hewan tersebut juga telah melalui pemeriksaan kesehatan ketat oleh otoritas veteriner Denmark maupun Pemerintah Indonesia.
Ia menambahkan, Denmark dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas genetik babi terbaik di dunia. Bibit yang didatangkan memiliki tingkat biosekuriti tinggi, pertumbuhan cepat, kualitas daging yang baik, serta efisiensi penggunaan pakan yang lebih tinggi.
"Denmark merupakan salah satu rujukan genetik babi terbaik dunia. Kombinasi Landrace-Yorkshire (LY) memiliki pertumbuhan yang baik dan kualitas daging unggul. Ini menjadi pilihan yang tepat untuk mempercepat pemulihan populasi babi nasional pascawabah ASF," katanya.
Sauland mengungkapkan, rencana impor tersebut sebenarnya telah disusun sejak tiga hingga empat tahun terakhir, setelah wabah ASF yang mulai merebak pada 2019 menyebabkan Indonesia kehilangan sekitar 4 juta ekor babi setiap tahun, atau setara sekitar 400 ribu indukan.
Ia juga menepis anggapan bahwa masuknya bibit babi asal Denmark akan memicu monopoli pasar, khususnya di Sulawesi Utara. Menurutnya, jumlah bibit yang diimpor masih sangat kecil dibandingkan kebutuhan peternak di Indonesia.
"Kalau ada yang berpikir ini akan memonopoli produksi bibit babi, itu masih jauh. Justru masyarakat perlu memanfaatkan peluang ini. Selama ini rata-rata satu induk menghasilkan delapan anak yang siap dijual. Dengan bibit unggul dari Denmark, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 14 anak per kelahiran. Artinya, ada tambahan sekitar enam ekor per induk yang tentu meningkatkan pendapatan peternak," jelasnya.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
