
Ilustrasi intimidasi. (Istimewa)
JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penanganan pasien korban gigitan ular yang dilakukan dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha bersama tim medis telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil investigasi terhadap layanan medis yang diberikan sebelum muncul dugaan intimidasi terhadap dr. Icha.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes Yuli Farianti mengatakan, investigasi dilakukan terhadap pelayanan di dua rumah sakit yang menangani pasien, yakni RSUD Kefamenanu dan RS Leona.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh tindakan medis dalam penanganan korban gigitan ular telah dilakukan sesuai prosedur, termasuk pemberian serum anti-bisa ular yang harus didasarkan pada indikasi medis.
"Semua tindakan penanganan luka gigitan ular yang dilakukan oleh kedua rumah sakit sudah dilakukan sesuai dengan prosedur. Pemberian serum anti-bisa ular harus dilakukan sesuai indikasi dan standar operasional prosedur (SOP)," kata Yuli kepada wartawan, Jumat (3/7).
Diketahui terduga pelaku intimidasi yang merupakan Anggota DPRD TTU sempat memaksa meminta dr. Icha segera memberikan serum anti-bisa kepada pasien.
Yuli menjelaskan, serum anti-bisa ular tidak dapat diberikan kepada seluruh pasien yang mengalami gigitan ular secara otomatis. Dokter harus terlebih dahulu menilai kondisi pasien berdasarkan kriteria medis yang telah ditetapkan.
"Penggunaan yang tidak sesuai justru dapat membahayakan keselamatan pasien. Jadi tidak semua orang yang digigit ular langsung diberikan serum anti-bisa ular karena ada indikasi medis yang harus dipenuhi," jelasnya.
Selain memastikan pelayanan medis telah sesuai SOP, Kemenkes juga menemukan persoalan lain dalam hasil investigasi, yakni lemahnya koordinasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan kepada tenaga medis.
Menurut Yuli, sistem koordinasi di daerah tidak berjalan optimal ketika tenaga kesehatan membutuhkan perlindungan dan intervensi dari pemangku kepentingan.
"Kami melihat koordinasi tidak berjalan antara fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah dalam pengawasan serta perlindungan tenaga medis dan tenaga kesehatan. Ada gap yang sangat besar dan ini menjadi hal yang harus diperbaiki ke depan," tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
