
Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) membubarkan diskusi Kopdar Bareng Mas Dar bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” yang dihadiri tiga pejabat Kabinet Indonesia Maju, Senin (15/6) malam.
JawaPos.com - Aksi protes mahasiswa mewarnai jalannya diskusi Kopdar Bareng Mas Dar bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta, pada Senin (15/6) malam.
Penolakan tersebut dilakukan mahasiswa karena menilai para pejabat pemerintah yang hadir sebagai pembicara tidak pantas membahas nilai-nilai Pancasila, di tengah kondisi negara yang dianggap semakin menjauh dari cita-cita kerakyatan dan keadilan sosial.
Dalam forum itu hadir tiga pejabat pemerintah, yakni Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.
Ketua Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Sheron Adam Funay, menyatakan para pejabat yang hadir ke dalam acara diskusi di UGM tidak layak membicarakan nilai-nilai Pancasila, di saat masyarakat telah turun ke jalan menyuarakan keresahannya. Namun, justru pemerintah tidak merespons berbagai tuntutan yang disuarakan.
"Di kala masyarakat sudah terlalu sesak dengan kebodohan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Rakyat di berbagai kota sudah turun ke jalan, berteriak dengan serenteng tuntutannya, tapi di mana pemerintah saat itu?," kata Sheron Adam Funay dalam keterangannya, Selasa (16/6).
"Terhinalah mereka ketika berbicara mengenai nilai-nilai Pancasila di tengah kondisi suara rakyat dibungkam, dikriminalisasi, dan kritik dianggap gangguan," sambungnya.
Ia pun mempertanyakan, mereka yang berbicara soal keadilan, kemanusian, dan kesejahteraan, tetapi justru berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara untuk program dan kunjungan luar negeri yang tidak bermanfaat.
Adam menegaskan, anggaran negara seharusnya digunakan untuk program-program yang bermanfaat, seperti pendidikan gratis, memperbaiki sekolah-sekolah, menambal defisit BPJS, dan mensubsidi BBM.
Namun, rezim Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dinilai buta terhadap kondisi sosial. Menurutnya, mereka lebih mementingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap habis APBN dan Koperasi Desa Merah Putih yang nirmanfaat.
"Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?" cetusnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022