
Ilustrasi prajurit TNI AD.
JawaPos.com - Rencana pembangunan ratusan Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) yang digagas Menteri Pertahanan (Menhan), Sjafrie Sjamsoeddin, mendapat sorotan tajam dari sejumlah kalangan. Program tersebut dinilai berpotensi memicu konflik agraria hingga perampasan tanah adat oleh aparat militer.
Direktur Merah Putih Institut, Fauzan Ohorella, mempertanyakan urgensi pembentukan Yon TP. Ia menilai, dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI tidak terdapat ketentuan yang memberi kewenangan militer untuk mengelola sektor pembangunan, pertanian, kesehatan, maupun pembinaan masyarakat.
"Yang jadi pertanyaannya, usulan (Yon TP) ini terkesan melampaui kekuasaan Presiden Prabowo Subianto, selaku Pemimpin Negara dan Kepala Pemerintahan," kata Fauzan Ohorella dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu (10/6).
Selain berpotensi memicu gesekan antara masyarakat sipil dan militer, Fauzan menilai proyek pembangunan Yon TP juga dapat menjadi beban besar bagi anggaran negara. Ia pun meyakini, Presiden Prabowo Subianto akan mempertimbangkan secara matang dampak dari usulan tersebut.
"Kami rasa Presiden Prabowo selaku Kepala Pemerintah dan Ketua DPN tidak akan mengambil risiko yang begitu besar terkait dengan usulan Yon TP ini," tegasnya.
Kritik serupa juga disampaikan pakar hukum tata negara, Rorano. Ia menilai, keterlibatan militer dalam ranah sipil berpotensi mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Menurutnya, semakin luas peran TNI di sektor sipil, maka ruang kebebasan dalam pemerintahan bisa semakin terbatas.
"Batalyon ini apa urgensinya sehingga harus dibentuk. Apakah hari ini, misalnya Kementerian Pertanian, fungsi-fungsi Kementerian tidak lagi berjalan sehingga TNI harus terlibat di dalamnya atau apakah sipil sudah tidak lagi efektif dalam urusan penyelenggaran sosial, maka diharuskan TNI mengurus hal seperti ini," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menargetkan pembentukan 750 Batalyon Teritorial Pembangunan dalam lima tahun ke depan. Menhan Sjafrie menyebut pembentukan batalyon tersebut bertujuan memperkuat kedaulatan negara dan memperluas jangkauan pertahanan hingga tingkat daerah.
"Kami targetkan setiap tahun 150 batalyon untuk memenuhi 514 kabupaten/kota," ucap Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR, Selasa (9/6).
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
