
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Istimewa)
JawaPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melayani minimal 300 orang penerima manfaat dari kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita per 2 Juni 2026.
Terkait langkah masif BGN ini, Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws menilai langkah tersebut merupakan upaya investasi jangka panjang negara yang langsung menyentuh akar permasalahan stunting masyarakat.
“Masalah stunting di Indonesia layaknya fenomena gunung es yang memiliki akar multidimensional mulai dari, asupan makan, ekonomi (keluarga), hingga buruknya sanitasi yang memicu infeksi berulang pada anak,” ujarnya.
Baca Juga:12 Kebiasaan Orang yang Terlalu Serius pada Diri Sendiri Menurut Psikologi dan Dampaknya pada Ego
Menurut Lesda, MBG secara komprehensif memotong rantai permasalahan yang berlarut-larut tersebut. Kini, program MBG tidak hanya menyasar anak usia sekolah, namun juga telah mencakup sasaran 3B guna menyasar periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Senada dengan pendapat Lesda, Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Tri Nuryanti, mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat 81 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan. Di wilayah-wilayah tersebut, keluarga prasejahtera kerap harus mengalokasikan minimal 65 persen dari total pendapatan mereka hanya untuk belanja pangan.
"Ketika ada jembatan keterjangkauan bernama MBG, beban pengeluaran pangan orang tua otomatis berkurang secara drastis. MBG ini sangat efektif untuk menangani kerawanan pangan sekaligus menaikkan taraf ekonomi keluarga, karena sisa pendapatan mereka kini bisa dialihkan untuk kebutuhan pendidikan atau kesehatan lainnya," papar Dr. Tri Nuryanti.
Dengan kata lain, MBG membantu memperbaiki struktur ekonomi keluarga prasejahtera yang selama ini terjebak dalam lingkaran kemiskinan akibat tingginya beban pemenuhan kebutuhan dasar yang berdampak pada timbulnya masalah kesehatan dan kualitas hidup mereka selama ini.
Peningkatan Kualitas Program yang Terus Dikawal Pakar
Kendati memiliki visi yang bagus, program MBG perlu terus dikawal semua pihak agar perbaikan kualitas pelaksanaan di lapangan semakin membaik. Para pakar melihat bahwa pemerintah sangat serius bertransformasi dari sekadar konsep "masak, bungkus, dan antar" menjadi tata kelola sistem pangan yang terukur, aman, dan memberdayakan.
Lesda mengapresiasi langkah pemerintah yang semakin fokus pada kejelasan Standard Operating Procedure (SOP) teknis di dapur umum untuk memitigasi risiko insiden keamanan pangan. "Prinsip dasar kita, makanan yang didistribusikan harus terjamin halal, aman, dan memberikan outcome yang baik. Evaluasi yang terus berjalan saat ini membuat program MBG semakin matang dan sempurna," tambahnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022