
ndonesia resmi memulai implementasi proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) yang diluncurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Pemerintah Republik Korea dan Global Green Growth Institute (GGGI) di Jakarta, Kamis (21/5). (Dok. KLH)
JawaPos.com - Indonesia resmi memulai implementasi proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) yang diluncurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Pemerintah Republik Korea dan Global Green Growth Institute (GGGI) di Jakarta, Kamis (21/5).
Dengan langkah ini, Indonesia menjadi negara ASEAN ketiga yang menjalankan program tersebut setelah Malaysia dan Filipina.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa pengelolaan sampah organik kini menjadi salah satu fokus utama dalam agenda penanganan perubahan iklim nasional.
Ia menyebut, dominasi sampah organik di tempat pembuangan akhir (TPA) yang mencapai 63 persen berkontribusi besar terhadap potensi emisi metana nasional hingga sekitar 21 juta ton CO₂e.
"Pengelolaan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan pilar krusial dalam aksi iklim kita. Melalui proyek AKCMM ini, Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan solusi praktis di lapangan dengan target penurunan emisi metana yang ambisius. Kami mengapresiasi dukungan Korea dan ASEAN dalam memperkuat sistem manajemen limbah yang lebih hijau dan berkelanjutan," ujar Menteri Jumhur.
AKCMM merupakan proyek kolaborasi berdurasi tiga tahun dengan nilai pendanaan mencapai USD 20 juta. Program ini berada di bawah payung Partnership for ASEAN-ROK Methane Action (PARMA) yang memperoleh dukungan dari Pemerintah Republik Korea melalui ASEAN-Korea Cooperation Fund (AKCF).
Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN San Lwin menilai pengurangan emisi metana menjadi bagian penting dalam strategi iklim jangka panjang ASEAN menuju pembangunan rendah karbon dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
“Mitigasi metana tetap menjadi komponen penting dalam agenda iklim ASEAN yang lebih luas serta upaya regional menuju pembangunan rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Dalam hal ini, proyek AKCMM memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat kerja sama regional, meningkatkan kapasitas teknis, serta mendukung implementasi aksi iklim yang praktis di negara-negara anggota ASEAN,” jelas San Lwin.
Sementara itu, Country Representative GGGI Indonesia Rowan Fraser mengatakan proyek AKCMM dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara kebijakan pemerintah pusat dengan implementasi di tingkat daerah. Program ini juga diarahkan untuk membangun sistem pengukuran emisi yang lebih akurat sekaligus membuka peluang investasi hijau di sektor pengelolaan sampah.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
