
illustrasi mafia tanah dok radar bogor
JawaPos.com - Bukannya selesai, persoalan mafia tanah tidak kunjung usai. Bareskrim Polri mendapati para pelaku yang semakin terorganisir memanfaatkan celah. Meski penegakan hukum sudah dilakukan, reformasi sistem pertanahan nasional yang berada di tangan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) penting untuk terus dilakukan.
Kanit V Subdit II Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri AKBP Ricky Paripurna Atmaja menyampaikan hal itu dalam dialog nasional bertajuk Mafia Tanah 2026: Negara Tidak Boleh Kalah yang dilaksanakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) bersama sejumlah ahli dan pihak terkait lainnya.
”Pola mafia tanah saat ini semakin terorganisir dan melibatkan berbagai modus, mulai dari penggunaan dokumen bermasalah, konflik kepemilikan, hingga pemanfaatan kelemahan sistem administrasi lama yang belum terintegrasi secara digital,” ungkap Ricky dikutip pada Kamis (21/5).
Menurut perwira menengah Polri dengan dua kembang di pundak tersebut, penyelesaian masalah mafia tanah perlu sinergi yang baik di antara semua pihak terkait. Khususnya kementerian dan lembaga yang punya kewenangan berkaitan dengan hal itu. Dia juga menyebut, penguatan validasi dokumen dan pengawasan proses administrasi pertanahan sangat penting sebagai upaya pencegahan.
Kondisi yang menjadi sorotan Bareskrim Polri turut diamini oleh pakar hukum pidana dari Universitas Jayabaya, Kristiawanto. Dia menilai, praktik mafia tanah saat ini berkembang semakin kompleks. Sebab, para pelaku tidak lagi hanya mengandalkan dugaan pemalsuan dokumen, melainkan turut memanfaatkan celah administrasi pertanahan, konflik waris, tumpang tindih data, hingga proses litigasi.
Persoalan tersebut tidak kunjung selesai dan semakin pelik lantaran sinkronisasi administrasi pertanahan masih sangat lemah. Kondisi itu menjadi salah satu persoalan utama yang kerap dimanfaatkan oleh mafia tanah untuk membangun klaim atas objek tanah tertentu. Ujungnya, tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban. Karena itu, mafia tanah yang terindikasi melanggar pidana wajib diproses.
”Hukum pertanahan tidak bisa hanya dipandang dari aspek administratif semata. Dalam banyak perkara sudah terdapat indikasi tindak pidana yang memerlukan penanganan serius dan terintegrasi,” jelas dia.
Menambahkan keterangan Kristiawanto, Ketua Centra Initiative sekaligus dosen di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Al Araf mengungkapkan bahwa persoalan mafia tanah harus juga dilihat dari perspektif negara hukum dan hak masyarakat. Dia menyebut, konflik agraria yang tidak diselesaikan secara adil bisa berdampak pada menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi hukum dan negara.
”Negara harus hadir memastikan perlindungan hak masyarakat berjalan secara adil dan transparan,” tegasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
