
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan jadi motor percepatan penurunan stunting. (Istimewa).
JawaPos.com - Upaya menekan angka stunting di Indonesia menunjukkan geliat yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya merata. Di satu sisi, angka nasional terus menurun. Di sisi lain, sejumlah wilayah masih tertinggal.
Data Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting turun menjadi 19,8 persen. Angka ini menyusut cukup signifikan dibandingkan 27,7 persen pada 2019. Penurunannya berlangsung bertahap: dari 24,4 persen pada 2021, turun menjadi 21,5 persen pada 2023, hingga akhirnya berada di bawah 20 persen pada 2024.
Capaian tersebut mencerminkan hasil kerja kolektif berbagai pihak, dari intervensi gizi hingga penguatan layanan kesehatan. Namun, di balik tren positif itu, ketimpangan antarwilayah masih terlihat jelas.
Sejumlah provinsi berhasil mencatatkan angka stunting yang jauh lebih rendah dari rata-rata nasional. Bali, misalnya, hanya mencatat 8,6 persen. Jawa Timur menyusul dengan 14,7 persen, sementara Kepulauan Riau berada di angka 15 persen. Angka-angka ini menggambarkan intervensi yang relatif lebih merata dan akses layanan yang lebih baik.
Baca Juga:Angka Stunting Masih Tinggi, Edukasi Ibu dan Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Risiko Sejak Dini
Sebaliknya, di wilayah lain, persoalan stunting masih membayangi. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat prevalensi tertinggi, mencapai 37 persen. Sulawesi Barat berada di angka 35,4 persen, disusul Papua Barat Daya sebesar 30,5 persen. Selisih yang lebar ini menegaskan bahwa akses terhadap gizi dan layanan kesehatan belum sepenuhnya setara.
Padahal, keberhasilan menekan stunting sangat ditentukan pada fase paling krusial dalam kehidupan anak: 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada periode inilah intervensi, mulai dari masa kehamilan hingga pascakelahiran menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah mengandalkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu motor percepatan. Program yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sejak Januari 2025 ini menyasar kelompok rentan, seperti pelajar, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Pelaksanaannya bertumpu pada dapur terpusat yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari dapur-dapur inilah makanan bergizi diproduksi dan didistribusikan ke berbagai sasaran, menjadi tulang punggung program MBG di lapangan.
Ekspansi program ini berlangsung masif. Hingga 28 April 2026, jumlah penerima manfaat telah mencapai 61.942.327 orang. Sementara itu, sebanyak 27.735 unit SPPG telah beroperasi di 38 provinsi.
Namun, pertumbuhan yang cepat belum sepenuhnya menjawab persoalan pemerataan.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
