
ilustrasi orang yang terkena campak. Sumber foto: Freepik
JawaPos.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan penurunan kasus campak hingga 93 persen yang dilaporkan pemerintah tidak boleh membuat masyarakat maupun pemangku kepentingan menjadi lengah. Pasalnya, pada awal tahun ini masih tercatat sebanyak 2.220 kasus campak.
Menurut Edy, capaian tersebut perlu disikapi secara kritis, mengingat target imunisasi dasar di Indonesia sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menilai, penanganan campak oleh pemerintah sudah menunjukkan respons yang cukup baik, terutama melalui peningkatan pelaporan kasus serta pelaksanaan imunisasi kejar.
“Penurunan kasus ini tidak serta-merta mencerminkan kondisi aman. Kita harus jujur melihat bahwa cakupan imunisasi dasar sempat turun dan tidak mencapai target. Ini yang menjadi akar masalah,” kata Edy Wuryanto kepada wartawan, Senin (6/4).
Edy menjelaskan, lonjakan kasus campak yang sempat mencapai 2.220 kasus merupakan dampak dari melemahnya sistem imunisasi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu indikatornya adalah cakupan vaksinasi Campak-Rubela yang belum optimal.
Berdasarkan data September 2022, menunjukkan cakupan vaksinasi Campak-Rubela dalam program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) secara nasional hanya mencapai 87,7 persen. Saat itu, tidak ada satu pun provinsi di luar Jawa-Bali yang mencapai cakupan 90 persen.
Bahkan di wilayah Jawa-Bali, Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat juga belum mencapai target 95 persen. Penurunan ini terjadi antara lain selama masa pandemi Covid-19.
“Meningkatnya insidensi campak belakangan ini merupakan akibat dari pelaksanaan program vaksinasi yang tidak mencapai target. Pada periode 2019 hingga 2021, tercatat sekitar 1,7 juta bayi tidak memperoleh imunisasi lengkap. Ini menciptakan kerentanan besar di masyarakat,” jelasnya.
Legislator Fraksi PDIP itu mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan tidak boleh hanya mengandalkan imunisasi massal, tetapi juga perlu memperkuat sistem pencegahan berbasis komunitas.
Beberapa langkah yang diusulkan antara lain percepatan pemulihan cakupan imunisasi dasar, penguatan kembali pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022