
Founder Principle Communication Office, Hasan Nasbi. (Istimewa)
JawaPos.com - Penggalan pernyataan pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, yang diduga menyinggung upaya menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto, viral di media sosial. Pernyataan itu menghebohkan publik, serta menyita perhatian.
Founder Principle Communication Office, Hasan Nasbi, menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan yang cenderung mengarah pada ajakan menjatuhkan pemerintahan Prabowo Subianto.
Menurut Hasan, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia menyebut ada kelompok yang mengklaim diri sebagai pejuang demokrasi, tetapi memiliki standar yang subjektif dalam menilai demokrasi itu sendiri.
“Memang ada kelompok masyarakat di bangsa kita maupun di negara lain yang itu mengaku pejuang demokrasi, tapi mereka mengukur demokrasi itu dengan isi perutnya sendiri, mengukur demokrasi itu dengan perasaan dan keinginannya sendiri," kata Hasan Nasbi dalam unggana pada media sosial Instagram pribadinya, Minggu (5/4).
Hasan menjelaskan, kelompok tersebut cenderung menganggap demokrasi berjalan baik hanya ketika kepentingannya terpenuhi. Namun, akan menilai tidak demokratis ketika berada di luar kekuasaan.
Hasan menyebut, fenomena semacam ini sebenarnya sudah terjadi di berbagai era pemerintahan di Indonesia. Fenomena itu terjadi sejak era Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-7 RI Joko Widodo, hingga saat ini Presiden RI Prabowo Subiyanto.
"Hari ini satu setengah tahun lah zaman kepemimpinannya Pak Prabowo, ada juga orang-orang yang kemarin merupakan bagian dari barisan yang kurang beruntung. Artinya dia kan mendukung capres-capres juga. Orang-orang ini kan kemarin juga mendukung capres-capres tapi kebetulan kurang beruntung di pemilu terakhir mereka kurang beruntung," ujarnya.
Ia menekankan, demokrasi telah menyediakan jalur yang jelas untuk meraih kekuasaan, yaitu melalui Pemilu, bukan melalui upaya provokasi, apalagi dengan cara menggulingkan kekuasaan.
“Mereka itu ngakunya pejuang demokrasi tapi enggak pernah mau paham apa esensi demokrasi. Kalau perebutan kekuasaan dalam demokrasi itu difasilitasi kok, tapi lewat apa? Lewat pemilu. Kalau Anda ingin berkuasa difasilitasi kok sama demokrasi tapi lewat apa? Lewat pemilu," cetusnya.
Dalam situasi global yang penuh tantangan, lanjut Hasan, stabilitas nasional harus menjadi prioritas utama, bukan justru memicu konflik internal.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
