JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut memiliki aspek positif bagi siswa dan masyarakat. Hal tersebut diungkap melalui riset Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada bulan Maret 2026, serta kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang dirilis pada Februari 2026.
Penelitian tersebut memotret peran MBG ternyata lebih dari sekadar pemenuhan gizi. Dalam salah satu hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa, program MBG ini mampu meringankan beban orang tua dan menyehatkan siswa.
“Salah satu temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini," ujar Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho melalui keterangan tertulis, Jumat (6/3).
Menurut hasil riset tersebut, kehadiran MBG dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan menghemat uang jajan anak.
Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah.
Di mana, hampir separuh murid, 48,5% siswa, mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan begitu 85,8% siswa selalu menghabiskan makanan MBG yang disajikan.
Sejalan dengan temuan tersebut, riset yang dilakukan RISED terkait MBG juga berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga dan anak penerima manfaat. Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG.
"Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
Hasil penelitian RISED menunjukkan adanya pola perubahan pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72% orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55% menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Meski begitu sebagai program berskala masif, pelaksanaan MBG tentu membutuhkan proses adaptasi di lapangan. Beberapa tantangan pelaksanaan MBG di lapangan masih menjadi kendala yang harus segera dibenahi agar program ini menjadi lebih efektif.
“Kami merekomendasikan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif untuk menjalankan program MBG. Salah satu langkah kuncinya adalah menempatkan sekolah sebagai subjek utama sejak tahap perencanaan. Keterlibatan aktif Dinas Kesehatan perlu dilakukan untuk melakukan supervisi dan pengawasan standar mutu dapur secara berkala,” tukas Hari.