
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mendorong perguruan tinggi Indonesia untuk mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah. (Humas Unair)
JawaPos.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan keprihatinan atas memanasnya situasi di Timur Tengah menyusul serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut JK, serangan semacam ini sangat tidak beretika, apalagi terjadi ketika proses perundingan diplomatik masih berlangsung antara Iran dan AS. Ia menegaskan, dalam konteks diplomasi, tindakan militer seharusnya tidak dilakukan ketika pihak-pihak sedang berunding.
“Saya merasa sangat prihatin melihat begitu banyak perang di dunia ini, terutama yang menyangkut dunia Islam. Kita mengetahui bagaimana Amerika–Israel menyerang Iran. Padahal Iran dan Amerika sedang berunding. Dari segi etik, kalau sedang berunding jangan menyerang, kan?” kata JK dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (1/3).
JK melihat tindakan tersebut sebagai bagian dari pola agresi yang berulang dari AS terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya.
Ia menyebut contoh-contoh sebelumnya seperti konflik di Venezuela, Afganistan, Irak, dan Suriah dalam kritiknya terhadap kebijakan luar negeri AS.
Terkait tewasnya Khamenei, JK juga menyampaikan rasa duka cita. Ia mengingatkan bahwa kondisi politik di Iran berada pada titik sensitif dan menimbulkan keprihatinan besar di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kendati demikian, ia mengakui bahwa upaya mendamaikan pihak yang berkonflik tidaklah mudah.
“Indonesia tentu sebagai negara mayoritas Islam, apalagi di bulan Ramadhan, berupaya setidak-tidaknya menyerukan dan mendoakan agar situasi ini segera berhenti. Untuk mendamaikan itu sulit sekali dan tidak mungkin kita lakukan seperti apa yang kita harapkan,” tegas JK.
Serangan militer yang dilancarkan pada 28 Februari 2026 oleh militer AS dan Israel dilaporkan telah menjadi operasi besar dengan target fasilitas militer dan kepemimpinan Iran, termasuk kediaman Khamenei. Media negara Iran menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut, dan Iran kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Serangan ini juga memicu respons militer dari Iran, dengan diluncurkannya serangan balasan terhadap basis AS dan target Israel di beberapa wilayah. Konflik ini telah menimbulkan eskalasi ketegangan yang signifikan di kawasan, melibatkan berbagai negara dan organisasi internasional.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
