MENCARI YANG TERSISA: Penduduk Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, Sumut, mengais sisa barang di rumah yang diterjang banjir, Kamis (4/12/2025). (AFP)
JawaPos.com - Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tengah dirundung duka. Namun, provinsi-provinsi lain juga harus waspada. Sebab, bencana serupa yang diakibatkan melemahnya kemampuan hutan sebagai daerah lindung juga bisa terjadi.
”Seandainya Siklon Senyar (seperti yang terjadi di Sumatera) ada di Jawa, risiko bencananya sangat besar,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq kemarin (4/12).
Dia lantas membuat perbandingan curah hujan akibat Siklon Senyar yang memicu bencana hidrometeorologi di Sumatera. Banjir besar di Bekasi dan sekitarnya Februari lalu dipicu hujan dengan intensitas 147 mm. Kemudian, banjir bandang di Denpasar September lalu yang menewaskan sekitar 21 orang diakibatkan hujan ekstrem dengan intensitas 245 mm.
Di sisi lain, Aceh, misalnya, intensitas hujannya sempat di angka 400 mm. “Perlu adaptasi khusus terkait risiko hujan ekstrem di masa mendatang,” katanya.
Khusus di Jawa Barat, Hanif mengatakan ancaman bencana hidrometeorologi cukup besar. Sebab, tutupan hutannya semakin kecil. Dari seharusnya ada 1,6 juta hektare area hutan sebagai pelindung daerah hilir dari risiko bencana hidrometeorologi, 1,4 juta di antaranya sudah hilang. Berganti menjadi area pertambangan, hunian, wisata, dan tempat komersial lainnya.
”Akibatnya kawasan hilir seperti Bekasi dan Jakarta rawan tergenang banjir. Harusnya tutupan hutan itu dijaga. Kalau perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Dia menjelaskan, total ada 23 daerah aliran sungai (DAS) yang terdampak bencana Sumatera. Tutupan hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar juga mengalami penyusutan sehingga tidak kuat menampung air hujan.
”Di Aceh, tutupan hutan dalam kurun 1990–2024 berkurang 14 ribu hektare,” katanya.
Sedangkan tutupan hutan di DAS Batang Toru, Sumut, berkurang 19 ribu hektare. Lalu di Sumbar, tutupan hutannya minus 10.521 hektare. Jadi, bencana Sumatera dipicu hujan sangat lebat ditambah kemampuan daya serap hutan yang berkurang.
Sementara itu, dalam rapat dengar pendapat di DPR kemarin, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengklaim deforestasi secara nasional turun dari 216.216 hektare pada 2024 menjadi 166.450 hektare per September 2025, atau mengalami penurunan 23,01 persen.
”Penurunan deforestasi tersebut juga teridentifikasi pada tiga provinsi terdampak banjir,” kata Raja.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
