Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 01.37 WIB

Kalahkan Dokter, Profesi Ahli Halal Banyak Dicari di Negara Maju, Gajinya Rp 100 Juta per Bulan

Ilustrasi: Proses pemotongan hewan oleh juru sembelih yang bersertifikat halal. (Dok.JawaPos.com).

JawaPos.com - Produk halal semakin jadi perhatian dunia. Negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan berupaya menghasilkan produk halal sebanyak-banyaknya. Imbasnya saat ini profesi ahli halal atau halal expert menjadi buruan dengan imbalan gaji sangat besar.

Tingginya kebutuhan ahli halal itu disampaikan Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan. Dia menceritakan di negara besar seperti Tiongkok, Australia, bahkan Hongkong mengincar pasar produk halal. Sayangnya mereka kekurangan sumber daya manusia (SDM) ahli halal.

"Sumber dayanya dari mana buat memeriksa (halal) itu. Percaya saya, tahun depan (ahli halal) jadi profesi paling dicari di dunia. Bukan dokter atau insinyur," jelasnya.

Haikal menuturkan setiap hari negara-negara itu membutuhkan ahli halal. Termasuk SDM lain di ekosistem Halah. Termasuk juru sembelih halal. Seperti diketahui untuk bisa dapat sertifikat halal, harus diawali dari bahan bakunya. Seperti daging yang disembelih oleh juru sembelih bersertifikat halal.

Dia mencontohkan untuk halal expert di sejumlah negara maju bisa mengantongi gaji bersih Rp 100 juta per bulan. "Di Korea Selatan, tukang potong (juru sembelih) halal gajinya Rp 60 juta," ungkapnya. Tidak sampai di situ, anak-anak mereka dapat beasiswa pendidikan di sana.

Haikal mengatakan saat ini dunia tiba-tiba butuh sertifikasi halal. Dia menegaskan halal sudah jadi gaya hidup. Halal sudah bukan semata urusan agama Islam. Tetapi juga jaminan kebersihan, keamanan, higienitas, dan kualitas.

Untuk itu dia mengingatkan Indonesia harus jadi pusat halal dunia. Indonesia tidak boleh sebatas jadi pasar produk halal. Seluruh industri atau usaha yang terkait, diwajibkan sertifikasi halal. Bahkan sampai UMKM seperti pecel lele, warung Tegal (warteg), dan sejenisnya.

Haikal mengatakan dengan memiliki sertifikat halal, bisa meningkatkan nilai jual. Kemudian usahanya bisa bersaing dengan produk asing. Karena banyak produk makanan dan minuman asing, yang berlabel halal. Dia mencontohkan polemik warung ayam goreng di Solo, yang sampai sekarang belum buka kembali karena masalah sertifikasi halal. Padahal omsetnya sebelumnya sangat besar. 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore