Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 13.12 WIB

Komisi XIII DPR RI Yakin RUU Perbukuan Dibahas Mulus, Tekankan Literasi dan Sikap Kritis Rakyat

Ilustrasi literasi harus menjadi fondasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (Istimewa) - Image

Ilustrasi literasi harus menjadi fondasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (Istimewa)

JawaPos.com-Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menegaskan literasi harus menjadi fondasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pihaknya mendorong Revisi UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan (RUU Perbukuan) untuk membentuk cara berpikir kritis masyarakat.

“Basisnya adalah mencerdaskan kehidupan berbangsa. Artinya, yang perlu kita perbaiki dari republik ini adalah critical thinking yang meletakkan spiritnya adalah literasi. Literasi itu menjadi energi,” kata Willy kepada wartawan, Senin (29/9).

Dia menekankan, literasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Bukan hanya soal akses membaca, tetapi juga soal pembentukan karakter berpikir logis dan kritis sejak dini. 

Legislator Fraksi NasDem itu membandingkan sistem pendidikan di Jerman yang menunda pengenalan huruf hingga anak berusia 10 tahun demi membangun kerangka berpikir logis terlebih dahulu.

“Kalau kita mau compare, anak-anak sekolah di Jerman itu baru bisa kenal huruf umur 10 tahun. Di kita calistung jadi syarat masuk sekolah. Mereka dibentuk logical framework, cara berpikir, sebab akibat. Di kita yang dijejali aksara dan angka,” jelas Willy.

Willy menilai, RUU Perbukuan harus menjadi instrumen strategis memperkuat budaya literasi nasional. Dia optimistis pembahasan RUU ini bisa berjalan mulus dan diputuskan menjadi usul inisiatif DPR pada akhir 2025.

“Kalau saya optimistis. RUU perbukuan ini toh enggak ada konflik kepentingan. Kalau bisa 2025 ini jadi hak inisiatif DPR, nanti tinggal DIM-nya dari pemerintah,” tutur legislator asal Dapil Jatim XI itu.

Lebih lanjut, dia menyebut RUU Perbukuan bukan hanya memperluas akses bacaan, melainkan juga menciptakan ruang kreatif bagi generasi muda. Misalnya dengan menghapus dikotomi buku sekolah dan buku umum serta memberi insentif bagi penulis, termasuk siswa yang menelurkan karya tulis.

“Insentif yang kita berikan itu, satu, tidak adanya dikotomi antara buku sekolah dengan buku umum. Yang kedua, insentif untuk penulis. Jadi anak-anak kita juga bercita-cita ingin menjadi penulis,” ujar Willy.

Lebih lanjut, Willy menegaskan literasi harus dipandang sebagai proyek jangka panjang, bukan sekadar program instan. Dia juga meyakini Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen kuat terhadap literasi. 

“Pak Prabowo orang yang komit terhadap literasi. Karena ini amanat konstitusional, mencerdaskan kehidupan berbangsa. Kalau enggak, kita bisa mengalami declining IQ serius. Apalagi sekarang hoaks luar biasa,” beber Willy.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore