Rahman Thohir, salah satu pengemudi ojol yang bertemu dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka di Kompleks Istana Wapres, Jakarta, Minggu (31/9).(Medsos)
JawaPos.com - Sosok Rahman Thohir belakangan menjadi sorotan publik setelah videonya menggunakan istilah akademis seperti eskalasi dan taruna menyita perhatian publik. Sebagian warganet meremehkan cara bicaranya, karena dianggap tidak sesuai dengan profesinya sebagai pengemudi ojek online (ojol).
Pernyataan Rahman menjadi sorotan setelah melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden (Wapres) Rakabuming Raka di Kompleks Istana Wapres, Jakarta, Minggu (31/8).
Namun, di balik profesinya sebagai ojol, Rahman ternyata memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang tidak sembarangan.
“Kayaknya kita ini sebagai ojol sangat direndahkan oleh mereka yang berkomen dan mereka yang membuat konten. Apakah kita tidak boleh menggunakan kata intelektualitas, seperti eskalasi, edukasi, taruna,” kata Rahman Thohir menanggapi cibiran publik, dalam sebuah tayangan video yang beredar di media sosial, Jumat (5/9).
Rahman mengungkapkan dirinya merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta dengan spesialisasi hukum internasional. Ia pun menegaskan siap menunjukkan ijazah asli, jika ada yang meragukan latar belakang pendidikannya.
“Jujur saya bilang tadi, saya lulusan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, jurusan saya fakultas hukum dengan penjurusan lagi adalah hukum internasional, boleh nanti cek ijazah asli saya, oleh Mas Roy Suryo, ada,” tegasnya.
Tak hanya itu, Rahman juga pernah berprofesi sebagai advokat. Ia terakhir tercatat aktif sebagai anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) hingga tahun 2012.
“Terus kedua, saya pernah berprofesi sebagai advokat, terakhir 2012 saya aktif di Peradi, jadi wajar saya punya public speaking baik. Peradi tahun 2012 sudah berakhir dan tidak saya perpanjang,” ujarnya.
Pengalaman sebagai advokat itulah yang membuat Rahman terbiasa berbicara dengan tenang dan penuh istilah akademis. Ia menilai wajar bila cara berbicaranya baik, mencerminkan latar belakang profesinya di masa lalu.
“Jadi untuk public speaking saya raya, memang bidang saya, ko dipermasalahkan,” ungkapnya.
Rahman juga menepis anggapan bahwa pengemudi ojol identik dengan penampilan lusuh. Ia menuturkan dirinya memiliki enam jaket yang selalu dipakai bergantian untuk menjaga kerapian dan kenyamanan saat bekerja.
“Saya punya jaket 6, seminggu sekali saya pasti ganti untuk on beat, jadi kalau kita pakai jaket lusuh, narik aja, komplen costemer pasti ada,” jelasnya.
Baca Juga: DPR Hanya Penuhi 3 Poin Dari 17+8 Tuntutan Rakyat, Ferry Irwandi: Masih Banyak yang Belum Terjawab!
Sebelumnya, pertemuan Gibran dengan para mitra ojol diunggah dalam sebuah tayangan video dalam akun media sosial Instagram @setwapres.ri. Dalam unggahan itu, Rahman menjadi perwakilan ojol yang berbicara dalam video tersebut.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
