Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 September 2025 | 23.36 WIB

Mahasiswa Amikom Tewas dalam Aksi Unjuk Rasa di Jogjakarta, DPR Tak Ingin Ada Lagi Korban Berjatuhan

Prosesi pemakaman Almarhum Rheza Sendy Pratama di Jaten, Sendangadi, Kapanewon Mlati pada Minggu (31/8). (Delima Purnamasari/Radar Jogja) - Image

Prosesi pemakaman Almarhum Rheza Sendy Pratama di Jaten, Sendangadi, Kapanewon Mlati pada Minggu (31/8). (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

JawaPos.com - Aksi unjuk rasa di Jogjakarta menewaskan satu orang, bernama Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Universitas Amikom Jogjakarta. Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menyampaikan duka cita mendalam atas tewasnya Rheza Sendy Pratama.

Ia menegaskan tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan kekerasan yang diduga dialami Rheza hingga berujung maut.

“Saya menyampaikan duka cita yang teramat mendalam atas gugurnya Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Amikom Yogyakarta dalam peristiwa unjuk rasa hari Minggu yang lalu. Saya berharap keluarga yang ditinggalkan tabah dan kuat dalam menerima cobaan ini,” kata Bonnie kepada wartawan, Senin (1/9).

Bonnie menyatakan, kebebasan menyampaikan pendapat melalui unjuk rasa dijamin oleh konstitusi, sehingga aparat seharusnya memberikan perlindungan, bukan justru melakukan tindakan represif. 

“Rheza adalah mahasiswa Indonesia yang semestinya dilindungi oleh aparat, apalagi dalam keadaan tak berdaya terjatuh dari motor saat unjuk rasa. Bukan malah dianiaya hingga tewas,” tegasnya.

Legislator dari Dapil Banten I itu juga menyinggung prinsip hukum internasional yang mengatur perlakuan terhadap pihak tak berdaya, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. 

“Bahkan dalam Konvensi Jenewa yang mengatur perang, apabila ada musuh menyerah dan tak berdaya harus dilindungi. Situasi di Yogya jelas bukanlah perang, maka perlindungan terhadap mahasiswa harus menjadi prioritas. Aparat kepolisian dilarang meluapkan emosinya dengan cara menganiaya mahasiswa,” urainya.

Karena itu, Bonnie mendesak agar kasus kematian Rheza diusut tuntas dan pelaku penganiayaan diproses hukum. Ia menekankan pentingnya kepatuhan aparat terhadap SOP pengendalian massa agar tidak ada lagi korban jiwa dalam unjuk rasa.

“Salus populi suprema lex esto. Keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi. Semua harus bisa menahan diri demi persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkas Bonnie.

Sebagaimana diketahui, Rheza, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023, meninggal dunia dengan tubuh penuh luka saat mengikuti aksi demonstrasi di sekitar Mapolda Jogjakarta, pada Minggu (31/8). 

Kronologi yang disampaikan Forum BEM DIY menyebutkan, motor yang ditunggangi Rheza tiba-tiba mati saat hendak berbalik arah ketika situasi mulai ricuh. Saat itu, aparat menembakkan gas air mata hingga membuatnya terjatuh, sementara rekannya yang dibonceng berhasil menyelamatkan diri.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore