Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 05.32 WIB

Analisis Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel Terkait Peristiwa Rantis Brimob Tabrak  Driver Ojol

Analisis Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel soal Rantis Brimob Tabrak  Driver Ojol. (Istimewa) - Image

Analisis Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel soal Rantis Brimob Tabrak  Driver Ojol. (Istimewa)

JawaPos.com–Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, sebagai pelanggan setia ojek online, peristiwa tewasnya seorang driver ojol sangat menyedihkan. Begitu pula, membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, bikin pilu hati.

Dia menjelaskan, berdasar riset, polisi juga bisa merasa kecemasan tinggi. Apalagi dalam situasi kerumunan yang kacau, ketegangan sangat mungkin meninggi.

”Rantis bergerak dengan kecepatan yang masih bisa pengemudi kendalikan. Tapi tabrakan tak terhindarkan. Mengapa?” ungkap Reza.

Dia mengatakan, dalam situasi seramai itu, pengemudi tidak bisa berfokus semata-mata lurus ke depan. Pergerakan massa dalam jumlah besar secara acak menyebar, membuat pengemudi harus menyapu pandangan ke banyak titik untuk menghindari tabrakan.

Reza menguraikan, menjelang momen tabrakan, demonstran berjaket hitam secara sekaligus berada pada jarak terdekat dengan demonstran berjaket hijau dan rantis. Kedua demonstran itu bergerak dengan posisi tubuh, pola, dan kecepatan yang berbeda satu sama lain.

”Secara bertahap, rantis terlebih dahulu harus menghindar dari demonstran berjaket hitam. Dalam tempo sangat singkat, pengemudi hanya punya satu kemungkinan yakni  spontan ke kiri. Adaptasi pengemudi sudah tepat,” terang Reza.

Namun pada tahap berikutnya, lanjut dia, tabrakan dengan demonstran berjaket hijau tidak terhindarkan. Rantis bergerak konstan (sama), sementara demonstran berbaju hijau tidak sama (posisi tubuh, pola, dan kecepatan) dengan demonstran berbaju hitam.

”Adaptasi pengemudi meleset, padahal adaptasi itu berhasil sesaat sebelumnya,” papar Reza.

Rantis berhenti sesaat setelah terjadi tabrakan. Menurut dia, hal itu mengindikasikan sesaat setelah terjadinya benturan, pengemudi masih cukup mampu mengendalikan diri, baik kendali diri sendiri maupun oleh penumpang rantis.

”Rantis kemudian bergerak. Ini manifestasi flight sebagai akibat kepanikan,” tandas Reza.

”Jadi, dua kondisi psikis pengemudi awalnya dalam situasi fear dan miskalkulasi pada saat mengantisipasi dua demonstran yang berbeda (tidak konstan),” imbuh dia.

Dikaitkan dengan mens rea (level kesadaran) bukan motif (jenis) pengemudi, dia menegaskan, perlu dibedakan dua momen. Pada momen tabrakan, mens rea pengemudi adalah negligence. Sedangkan pada momen rantis bergerak kembali, mens rea pengemudi adalah recklessness atau bisa pula negligence (butuh pendalaman).

”Kedua mens rea tersebut berada pada level rendah. Alhasil, sekali lagi, kejadian ini menyedihkan bagi demonstran berjaket hijau, yang saya bayangkan dia adalah pengemudi ojol dan pengemudi rantis. Andai para petinggi negara ini lebih amanah, tidak akan terjadi ini musibah,” beber Reza.

”Semoga investigasi berlangsung tuntas, menyeluruh, objektif, dan transparan,” ujar Reza Indragiri Amriel.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore