
Operasional Whoosh yang sebagian besar masih bergantung pada tenaga ahli Tiongkok jangan terulang ke Kereta Cepat Jakarta-Surabaya. Pakar sebut harus ada transfer teknologi. (RianAlfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Rencana pembangunan kereta cepat Jakarta–Surabaya, sebagai kelanjutan dari Whoosh yang ada saat ini, kembali disorot dari berbagai sisi.
Pakar tata kota dan pengamat infrastruktur Yayat Supriatna menilai proyek bernilai jumbo ini jangan sampai sekadar membangun jalur kereta, tetapi gagal menjadi momentum penting bagi transfer teknologi di Indonesia.
“Esensi pembangunan infrastruktur berskala besar seperti kereta cepat bukan hanya soal kecepatan transportasi. Tetapi bagaimana kita bisa memperoleh alih teknologi, membangun kompetensi teknisi dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan pada negara lain,” ujar Yayat saat dihubungi JawaPos.com.
Yayat menyoroti fakta bahwa hingga kini SDM yang mengoperasikan kereta cepat Jakarta–Bandung masih didominasi tenaga ahli dari Tiongkok.
Standar sertifikasi dan 'jam terbang' yang dibutuhkan membuat tenaga kerja Indonesia belum bisa mengambil peran penuh.
“Kalau pola ini dilanjutkan ke proyek Jakarta–Surabaya, kita hanya jadi pengguna, bukan penguasa teknologi. Itu artinya setiap kali ada masalah, kita tetap bergantung pada teknisi asing,” lanjutnya.
Menurut Yayat, tanpa transfer teknologi, proyek ini hanya menambah utang dan beban fiskal tanpa meningkatkan kapasitas bangsa.
Infrastruktur modern seharusnya melahirkan efek ganda: membangun SDM, membuka lapangan kerja baru, hingga menciptakan industri pendukung dalam negeri.
Jepang dan Korea Selatan contohnya, yang pada awalnya mengimpor teknologi kereta cepat dari luar, namun berhasil menguasai produksi sendiri berkat strategi transfer teknologi yang ketat.
Kini, kedua negara tersebut bukan hanya operator, tetapi juga eksportir beragam teknologi transportasi modern.
“Kalau kita hanya jadi pembeli, 10 atau 20 tahun ke depan kita tetap akan bergantung. Sementara negara lain sudah menjual teknologinya ke seluruh dunia,” lanjut Yayat.
Selain beban biaya, ketergantungan ini berpotensi memengaruhi kedaulatan ekonomi. Yayat mengingatkan, setiap infrastruktur yang vital dan dijalankan oleh pihak asing bisa menjadi risiko geopolitik.
“Jangan sampai kereta cepat kita jadi simbol ketergantungan. Padahal seharusnya proyek besar seperti ini bisa menjadi tonggak kemandirian,” tambahnya.
Yayat juga mendorong pemerintah agar menegosiasikan skema transfer teknologi secara jelas dengan mitra asing.
“Harus ada klausul: kapan teknisi kita dilatih, kapan kita bisa mengoperasikan secara mandiri, dan kapan industri lokal bisa ikut memproduksi. Kalau tidak, ini hanya proyek prestise, bukan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
