
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kereta cepat Jakarta-Surabaya dinilai belum menjamin peningkatan ekonomi di Surabaya dan Indonesia Timur. (dok. Jawa Pos/Dipta Wahyu)
JawaPos.com - Rencana pembangunan kereta cepat Jakarta–Surabaya, setelah memaksa membangun Whoosh Jakarta-Bandung, kembali menuai kritik. Pakar tata kota dan pengamat infrastruktur, Yayat Supriatna, menilai proyek ini masih lemah dari sisi justifikasi ekonomi.
Menurutnya, tanpa keterikatan bisnis yang kuat antara Jakarta dan Surabaya, investasi raksasa tersebut bisa berujung menjadi beban baru bagi negara.
“Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya daya tarik bisnis antara Jakarta dan Surabaya? Kalau relasi ekonominya tidak cukup kuat, kereta cepat ini bisa jadi sekadar proyek prestise, bukan kebutuhan,” ujar Yayat saat dihubungi JawaPos.com.
Saat ini perjalanan Jakarta–Surabaya sudah dilayani oleh beragam moda transportasi lain. Seperti pesawat udara, kereta reguler, hingga jalan tol Trans-Jawa. Maskapai bahkan menawarkan tarif kompetitif dengan waktu tempuh yang relatif singkat.
Dengan kondisi ini, Yayat meragukan captive market yang akan menopang kereta cepat. “Kalau tiketnya tidak jauh beda dengan pesawat, lalu siapa sebenarnya pengguna utama kereta cepat? Segmen pasarnya belum jelas,” katanya.
Jika benar kereta cepat hanya butuh 3–4 jam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, maka maskapai penerbangan bisa kehilangan pasar besar.
Padahal, pemerintah telah menggelontorkan investasi besar untuk bandara internasional seperti Soekarno-Hatta, Ahmad Yani di Semarang, Kertajati di Majalengka, Dhoho di Kediri, dan Bandara Juanda.
“Bisa jadi bandara yang sudah dibangun dengan biaya besar malah terbengkalai. Begitu juga jalan tol yang sudah masif dibangun. Kalau ini tidak disinergikan, anggaran kita terbuang percuma,” kata Yayat.
Memang, Surabaya saat ini tengah berkembang sebagai pusat industri dan pelabuhan untuk kawasan Indonesia timur, sementara Jakarta berfungsi sebagai pusat bisnis dan perkantoran.
Yayat menilai, di atas kertas, ada potensi relasi ekonomi yang bisa didorong lewat konektivitas kereta cepat. Namun, hal itu tidak otomatis menjamin keberhasilan proyek.
“Ekonomi kita tumbuh hanya 5 persen, itu pun didominasi belanja pemerintah. Untuk proyek besar seperti kereta cepat, idealnya pertumbuhan ekonomi 7–8 persen agar hubungan antarwilayah hidup. Kalau tidak, justru jadi beban pembangunan,” jelasnya.
Lebih jauh, Yayat menyoroti risiko kereta cepat Jakarta–Surabaya hanya menjadi 'mimpi politik' tanpa dasar ekonomi yang kuat.
“Kadang pembangunan seperti ini hanya demi kebanggaan pemimpin, bukan kebutuhan masyarakat. Kalau kapasitas fiskal kita belum sanggup, ujung-ujungnya jadi proyek air mata, bukan proyek mata air,” tegasnya.
Dengan berbagai risiko itu, Yayat menegaskan pentingnya kajian ulang yang menyeluruh. “Kita harus menghitung betul apakah kereta cepat benar-benar membangkitkan ekonomi dan memperkuat hubungan Jakarta–Surabaya, atau malah mematikan sektor transportasi lain yang sudah ada,” pungkasnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
