
Anggota Bea Cukai mengoperasikan mesin pemindai X-ray di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (11/06/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Bea Cukai kembali jadi bulan-bulanan warganet setelah unggahan seorang pengguna X bernama @renzum1 viral.
Ia menampilkan video seorang gamers yang mengaku diminta membayar Rp 8,9 juta untuk sebuah mouse gaming, yang sebenarnya masih berupa sampel produk untuk dites. Belum dijual secara komersial.
Dalam cuitannya, akun @renzum1 bercerita bahwa mouse tersebut dikirim dari luar negeri sebagai bentuk kolaborasi seorang streamer e-sport dengan sebuah brand perangkat gaming.
Barang yang seharusnya hanya digunakan untuk uji coba itu justru ditaksir nilainya oleh Bea Cukai tanpa dasar harga resmi.
“Mousenya dikirim buat test sample, eh dipalak Bea Cukai 8,9 juta buat produk yang bahkan belum ada harganya. Katanya Becuk yang taksir-taksir sendiri harganya,” tulis @renzum1 pada Rabu (27/8).
Kasus ini langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mengaku jengkel karena kasus serupa berulang kali terjadi.
Mereka menilai Bea Cukai justru mempersulit warga yang mencoba mengembangkan usaha atau menjalin kerja sama internasional. Eh, malah kena palak.
Rasa kesal makin besar karena pungutan dianggap tak transparan, seakan nilai barang hanya 'ditaksir seenaknya'.
Ada pula yang menyinggung soal sistem insentif di lembaga pemerintah, termasuk Bea Cukai, yang membuat petugas seolah berlomba-lomba mengejar angka pungutan demi mendapat bonus.
Di sisi lain, sebagian warganet mencoba memberi pembelaan dengan mengingatkan bahwa aturan memang mewajibkan barang impor dengan nilai di atas USD 3 untuk dikenakan bea masuk dan pajak.
Namun suara itu tenggelam di tengah gelombang komentar sinis yang menilai Bea Cukai selama ini lebih sering menjadi 'penghalang' dari pada pelindung.
Menyadari ramainya perbincangan, akun resmi Bea Cukai pun turun tangan memberikan penjelasan.
“Halo, setiap barang kiriman impor dengan nilai di atas USD 3 dikenakan Bea Masuk dan Pajak. Untuk barang yang bukan hasil transaksi, penetapan nilai barang berdasarkan nilai transaksi barang identik atau serupa,” tulis akun @bravobeacukai.
Sayangnya, klarifikasi tersebut tidak meredam kemarahan publik. Warganet menilai penjelasan itu hanya normatif dan tidak menyentuh persoalan utama: transparansi serta akurasi penentuan nilai barang.
Kasus mouse gaming ini menambah panjang deretan kontroversi Bea Cukai yang kerap viral di media sosial.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
