Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 Juli 2025 | 05.10 WIB

Lebih Dari 160 Guru Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri, Mensos Saifullah Yusuf Ungkap Alasannya

Sejumlah siswa mengikuti masa Pengenalan Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2025/2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 di Pusdiklatbangprof Kemensos, Jl. Margaguna Raya, Radio Dalam, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (14/7/2025). (Dery Ridwansah/ - Image

Sejumlah siswa mengikuti masa Pengenalan Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2025/2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 di Pusdiklatbangprof Kemensos, Jl. Margaguna Raya, Radio Dalam, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (14/7/2025). (Dery Ridwansah/

JawaPos.com - Lebih dari 160 guru yang ditugaskan mengajar di Sekolah Rakyat memutuskan untuk mengundurkan diri. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengaku sudah menyiapkan penggantinya. 

Mensos membenarkan kabar adanya pengunduran diri mereka. Dia menyebut, keputusan mereka mundur berkaitan dengan lokasi penempatan.

“Umumnya alasannya karena itu, jauh dari tempat tinggalnya,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (29/7). 

Menurut dia, penempatan 1.500 guru Sekolah Rakyat ini memang dilakukan secara otomatis oleh sistem yang ada. Sehingga, tak jarang mereka ditempatkan di lokasi yang cukup jauh. Ia pun cukup memahami alasan pengunduran diri yang disampaikan.

Kendati ada banyak guru yang mundur, Saifullah memastikan tak akan mengganggu proses belajar mengajar.

Saat ini pun, satgas seleksi guru yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah melakukan seleksi kembali untuk mencari pengganti mereka. 

Menurut mantan Wagub Jawa Timur itu, ada banyak kandidat pengganti mengingat Kemendikdasmen memiliki data lebih dari 50 ribu guru lolos pendidikan profesi guru (PPG) yang belum mendapatkan penempatan. “Jadi sekarang kita proses lagi,” jelasnya.

Selain kalangan guru, ada pula murid yang mundur. Alasannya beragam. Mulai dari tidak betah mengikuti rangkaian kegiatan di sekolah berbasis asrama ini hingga kangen orang tua.

Dalam kasus ini, Kemensos tak menggunakan metode yang sama dengan kasus guru mundur. Untuk murid ini, Kemensos tak serta mengganti mereka. 

Gus Ipul, sapaan mensos, menekankan untuk dilakukan pendekatan persuasif dengan sang anak beserta orang tuanya.

Dia mencontohkan untuk kasus di Temanggung. Ada 5 anak yang memutuskan pulang. Namun, setelah dilakukan pendekatan kembali, 2 anak akhirnya mau kembali ke sekolah. 

“Yang 3 lainnya masih belum mau. Nanti kalau memang dalam jangka waktu tertentu masih belum mau tentu akan digantikan oleh siswa yang lain yang sudah siap,” jelasnya.

Karenanya, lanjut dia, sejak awal disampaikan bahwa Sekolah Rakyat ini menganut prinsip multi entry-multi exit.

“Karena prinsipnya pendidikan ini tidak ingin memaksa, tapi ingin meyakinkan bahwa masa depan itu bisa akan lebih baik kalau kita bisa mengikuti proses pendidikan,” sambungnya. 

Di sisi lain, ia menyebut akan melaporkan perkembangan pelaksanaan Sekolah Rakyat ini pada Presiden Prabowo Subianto segera.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore