Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 02.30 WIB

Merayakan Perjalanan Panjang Jaminan Kesehatan Nasional, BPJS Kesehatan Dorong Kolaborasi Akademik dan Riset

Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan, Andi Afdal saat berbicara berbicara di Universitas Indonesia, Kamis (17/7). (Istimewa) - Image

Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan, Andi Afdal saat berbicara berbicara di Universitas Indonesia, Kamis (17/7). (Istimewa)

JawaPos.com - Momentum ulang tahun BPJS Kesehatan tak sekadar peringatan hari lahir sebuah lembaga. Di baliknya, tersimpan jejak sejarah panjang transformasi entitas jaminan sosial kesehatan di Indonesia, yang terus tumbuh dan beradaptasi mengikuti dinamika zaman.

Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan, Andi Afdal, menjelaskan bahwa lembaga yang kini dikenal sebagai BPJS Kesehatan sesungguhnya telah ada sejak 15 Juli 1968, bermula dari Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK).

“Entitas Jaminan Sosial Kesehatan itu lahir pertama kali di tahun 1968 dengan nama Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan atau BPDPK. Kartu kuning pertama kali, itu 15 Juli 1968. Memang coveragenya terbatas,” ungkap Afdal dalam sambutannya di acara Seminar Nasional "Mewujudkan Layanan Kesehatan yang Setara, Berkualitas, dan Berkelanjutan Melalui Dukungan Multisektor" di Universitas Indonesia, Kamis (17/7).

Sejak saat itu, entitas ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan nama, mulai dari PT Askes Persero hingga menjadi BPJS Kesehatan pada tahun 2014. Meski berganti nama, semangat dan orang-orang di baliknya tetap memiliki komitmen yang sama.

Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-57 ini, BPJS Kesehatan menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam kegiatan yang mengusung semangat kolaborasi dan penguatan budaya riset di bidang jaminan kesehatan nasional.

“Salah satu tantangan nilai utama di BPJS Kesehatan memang sinergi dan kolaborasi. Kita membuka dengan begitu banyak universitas seluruh Indonesia,” ujarnya.

Afdal juga menyebut bahwa sebagian besar kerja sama yang dilakukan dengan kampus meliputi pemagangan mahasiswa serta penelitian berbasis data yang dimiliki BPJS Kesehatan. Menyadari potensi besar dari data internal, pihaknya mengajak akademisi untuk memanfaatkan data sample yang sudah tersedia secara terbuka.

“Masalahnya orang di BPJS Kesehatan tidak semuanya jago melakukan riset. Mereka tahu kerja, tapi tidak jago melakukan riset, tapi datanya banyak, saya akan menganjurkan, terutama para sekolah (universitas), para periset, buka dulu data yang kita berikan expose secara gratis, namanya data sampel," ucapnya.

Salah satu bentuk konkret dari semangat ilmiah tersebut adalah penerbitan jurnal jaminan kesehatan nasional. Jurnal ini, menurutnya, lahir dari idealisme untuk mendokumentasikan sejarah dan dinamika penyelenggaraan jaminan sosial kesehatan di Indonesia.

“Kalau kita tidak tuliskan, tidak kita dokumentasikan, tidak jadikan itu sebuah jurnal yang bermanfaat, itu terlalu sayang,” ujarnya," kata Afdal.

Jurnal ini kini telah mencapai volume ke-5 dan terus berupaya menjaga konsistensi terbit secara berkala dengan dukungan para reviewer dari berbagai kampus di Indonesia.

Tak hanya soal sejarah dan pengelolaan data, kegiatan ini juga mengangkat kembali tiga fungsi utama dari jaminan kesehatan nasional, yaitu membuka akses bagi masyarakat rentan, mencegah kemiskinan akibat sakit, dan menjaga keberlanjutan sistem pelayanan kesehatan nasional.

“Kami mohon berkenan. Untuk memberikan sebanyak mungkin asupan, masukan untuk perbaikan kita ke depan,” tutupnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore