
Para guru besar dan dokter FK Unair bersatu menyuarakan keprihatinan terhadap UU No 17/2023 tentang Kesehatan yang dinilai berpotensi melemahkan peran kolegium. (Istimewa)
JawaPos.com – Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menegaskan pentingnya menjaga independensi kolegium profesi dalam dunia kedokteran.
Dalam simposium yang digelar di FK Unair, Kamis (12/6), para guru besar menyuarakan penolakan terhadap intervensi negara terhadap kolegium yang dinilai sebagai pilar utama dalam menjaga mutu dan standar pendidikan dokter di Indonesia.
Prof Dr dr David Perdanakusuma, SpBP-RE(K), menyampaikan bahwa kolegium merupakan institusi yang tak bisa dipisahkan dari keilmuan kedokteran karena berperan sebagai pengampu ilmu di masing-masing bidang spesialis.
Ia menegaskan bahwa standar kompetensi dan keilmuan, misalnya dalam bidang bedah, bersifat universal dan tidak bisa diambil alih oleh negara.
“Standar ilmu bedah sama antara di Indonesia maupun di negara lain. Negara bisa memberi dukungan dan menaungi, tetapi bukan mengambil alih. Yang bisa mengelola kolegium adalah orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya,” tegas David.
Ia juga mengingatkan bahwa kolegium berperan penting dalam menentukan tiga standar utama seorang dokter, yakni keilmuan, kompetensi, dan kurikulum.
Jika dikelola oleh orang yang tidak memiliki kompetensi di bidangnya, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan dalam pengembangan ilmu kedokteran di tanah air.
“Kalau orang yang tidak pernah berkecimpung dalam keilmuan ikut mengatur, bagaimana bisa hasilnya baik? Sekarang orang-orangnya mulai diambil, nanti ilmunya juga akan diambil,” ujarnya.
Sementara itu, Prof Dr dr Joni Wahyuhadi, SpBS(K), menambahkan bahwa tantangan dunia kedokteran saat ini tidak hanya soal pengelolaan pendidikan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat terhadap dokter di dalam negeri.
“Banyak warga kita yang masih memilih berobat ke luar negeri, padahal kompetensi dokter Indonesia sangat mumpuni. Masalahnya ada pada aspek empati dan etika,” jelas Joni.
Menurutnya, kurikulum pendidikan kedokteran harus merumuskan tidak hanya keilmuan, tetapi juga empati dan etika sebagai nilai utama profesi dokter.
Ia menekankan perlunya sinergi antara kolegium dan pemerintah dalam merancang kurikulum yang mencetak dokter berintegritas.
“Selama ini kurikulum dirumuskan oleh kolegium. Ke depan, Kemenkes, Kemendikbud, Kemendagri, Kemenkeu, dan kolegium harus berjalan bersama mencetak dokter berkualitas, punya ilmu, empati, dan etika,” ujarnya.
Simposium ini merupakan bagian dari gerakan serentak tujuh fakultas kedokteran di Indonesia untuk menolak intervensi negara terhadap kolegium.
Para guru besar FK Unair menyuarakan sikap tegas bahwa profesionalisme dan mutu pendidikan dokter harus tetap dijaga oleh institusi yang ahli dan independen.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
