
Ketua Umum AMPHURI Firman M. Nur. (Hilmi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Musim penyelenggaraan haji semakin dekat. Rencananya, mulai besok (1/5) jemaah mulai masuk asrama haji untuk diberangkatkan ke Arab Saudi pada 2 Mei.
Faktor kesehatan tetap menjadi sorotan dalam penyelenggaraan haji kali ini, khususnya sejumlah penyakit menular yang berpotensi menyerang jemaah selama di tanah suci.
Urusan kesehatan haji, termasuk untuk umrah, dibahas dalam Forum Dialog Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) di Jakarta pada Rabu (30/4).
Acara tersebut membahas penyakit pneumonia yang berpotensi menyerang jamaah haji, dan menghadirkan sejumlah pakar di dunia kesehatan.
Pneumonia adalah kondisi peradangan di paru-paru, akibat infeksi di alveoli atau kantong udara, di mana alveoli terisi cairan ataupun dahak. Dalam bahasa awam, penyakit ini sering disebut sebagai paru-paru basah.
Ketua Umum AMPHURI Firman M. Nur menuturkan, selama ini jamaah haji maupun umrah hanya memperhatikan penyakit influenza dan meningitis. "Padahal ada penyakit yang lebih berbahaya. Tanpa kita sedari, tiba-tiba terjangkit," katanya.
Firman mengatakan, data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan kasus Pneumonia atau radang paru-paru pada musim haji maupun umrah cukup banyak. Jika tidak segera ditangani dengan baik, penyakit ini bisa berdampak fatal dan mengancam nyawa.
"Perlu kita memahami betapa bahayanya pneumonia. Lalu bagaimana kita mencegah dan menanganinya," katanya. Salah satu upaya mencegah pneumonia adalah lewat vaksin.
Dia berharap penyelenggaraan haji tahun ini berjalan lancar. Sehingga jamaah haji khusus maupun reguler, bisa menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan sehat.
Sementara itu Kepala Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah 2024 dr Enny Nuryanti mengatakan, seluruh jamaah haji Indonesia wajib menjalani pemeriksaan kesehatan. Baik jemaah reguler maupun khusus.
Supaya mereka melakukan perjalanan benar-benar dalam kondisi sehat. "Serta mencegah transmisi penyakit menular," kata dia.
Enny mengatakan, pemeriksaan kesehatan dilakukan sampai saat jamaah masuk asrama haji atau embarkasi. Kemudian juga dilanjutkan sampai jemaah tiba di Arab Saudi. Jamaah haji juga diminta untuk vaksinasi.
"Kita juga edukasi selama di Saudi menggunakan alat pelindung diri," katanya. Alat minimal yang bisa digunakan adalah masker. Dengan menggunakan masker, bisa mencegah penularan berbagai penyakit.
Seperti diketahui, pada musim haji maupun umrah, jamaah Indonesia berkumpul dengan kerumunan jamaah dari berbagai dunia. Kondisi ini memicu peluang penularan penyakit. Salah satunya adalah penyakit pneumonia.
Tahun ini Indonesia mendapatkan kuota haji 221 ribu orang. Kuota itu dibagi menjadi 203.320 jamaah haji reguler dan 17.680 haji khusus.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
