
Pendiri dan anggota Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia Prof M. Quraish Shihab (dua dari kanan) di Jakarta (11/11). Hilmi/Jawa Pos
JawaPos.com – Toleransi masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Setiap kelompok masyarakat, berlomba-lomba mengaku paling toleran. Ternyata di masyarakat masih ada yang salah paham mengenai konsep toleransi.
Fenomena salah paham mengenai konsep atau pengertian toleransi tersebut, jadi salah satu tema dalam diskusi yang digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia di Jakarta pada Senin (11/11). Pendiri sekaligus anggota MHM Prof M. Quraish Shihab mengatakan, ada sejumlah orang yang salah paham dalam memahami toleransi.
Pemahaman yang salah itu, menerjemahkan toleransi dengan mengalah. Padahal menurut Quraish, toleransi bukan berarti mengalah. Toleransi itu seperti orang yang berjabatan tangan. ’’Anda mengulurkan tangan lalu memegang tangan orang lain. Saling menyentuh tangan. Sehingga manfaat toleransi dirasakan dua pihak. Jadi bukan mengalah. Kita berjalan seiring,” terang Quraish.
Dia menekankan bahwa perbedaan itu keniscayaan. Kalau tidak berbeda, manusia tidak bisa hidup. ’’Tuhan mau kita berbeda. Maka jangan jadikan perbedaan alasan untuk tidak bekerja sama,’’ jelasnya.
Quraish menjelaskan lembaga MHM didirikan bukan untuk memadamkan kebakaran, tapi mencegah kebakaran. Salah satu kegiatan MHM adalah menyebarkan toleransi yang benar. Sebab, tanpa toleransi, bisa terjadi kebakaran. ’’Kegiatan MHM lainnya adalah meluruskan kesalahpahaman, serta membangun kerjasama positif antar umat manusia,’’ paparnya.
Selain soal toleransi atau hubungan umat beragama, Quraish mengatakan mereka juga menaruh perhatian terhadap pelestarian alam. Quraish menegaskan bahwa menjaga pelestarian alam atau lingkungan, menjadi tanggung jawab setiap individu.
Baca Juga: Terinspirasi dari Kisah Nyata Tentang Persahabatan, Nevach Rilis Single Alasan Atas Jawaban
Tugas ulama dan tokoh agama dalam konteks pelestarian lingkungan adalah ikut serta menyadarkan masyarakat bahwa alam adalah titipan Tuhan untuk dilestarikan. ’’Setiap gangguan terhadap alam bertentangan dengan perintah Tuhan,’’ tegasnya.
Mereka juga mendorong penulis dan khatib untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang pandangan agama menyangkut pelestarian lingkungan. Hal itu tentu tidak hanya dalam bentuk ceramah, mengaitkan kewajiban melestarikan lingkungan dengan hak yang bersifat ajaran agama semata.
Tetapi ada tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan. Walaupun bukan atas nama agama tapi ilmu pengetahuan yang dapat menghambat pemanasan global. ‘\’’Misalnya, jangan memakai plastik atau semua kegiatan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan,’’ paparnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
