Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 September 2024 | 22.59 WIB

Kronologi Penyanderaan Pilot Philip Mark Mehrtens Sebelum Dibebaskan TNI-Polri, Bermulai dari Pesawat Dibakar sampai Gugurnya 5 Prajurit TNI

Pilot Susi Air Kapten Phillip Mark Mehrtens (kiri) saat melakukan video call bersama keluarga di Bali dari Timika, Papua Tengah, Sabtu (21/9/2024). (ANTARA/HO-Humas Polda Papua)

 
JawaPos.com - Pilot asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens akhirnya berhasil dibebaskan dari tawanan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Dia disandera sekitar 1,5 tahun oleh kelompok separatis.
 
Peristiwa ini bermula saat Philip menerbangkan pesawat Pilatus Porter PC 6/PK-BVY. Pesawat ini hilang kontak di Bandara Paro pada Selasa, 7 Februari 2023 sekitar pukul 06.17 WIT. Pesawat seharusnya melaksanakan  penerbangan dengan rute Timika - Paro - Timika.
 
Pesawat Susi Air ini akhirnya ditemukan terbakar di Papua. Maskapai menduga kuat jika pesawat sengaja dibakar oleh pihak tertentu.
 
 
Representatives Susi Air, Donal Fariz mengatakan, pesawat tersebut membawa 5 penumpang dan barang bawaan dengan total muatan 452 kilogram. Dua jam kemudian Susi Air mendapati ELT pesawat dalam posisi aktif pukul 09.12 WIT. 
 
"Perusahaan kemudian menjalankan kondisi emergency di internal perusahaan dengan mengirimkan pesawat lain mengecek posisi Pesawat dan kemudian ditemukan dalam kondisi terbakar di runway," kata Donal.
 
Donal menuturkan, maskapai menduga terbakarnya pesawat bukan karena gangguan teknis. Pasalnya, pesawat mendarat dan parkir dengan aman di lintasan.
 
Tak lama kemudian, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi pembakaran pesawat Susi Air. Pembakaran terjadi dibawah kepemimpinan Egianus Kogeya. 
 
"Kami TPNPB KODAP III Ndugama-Derakma sudah membakar satu pesawat jenis Susi Air nomor registrasi PK-BVY di lapangan terbang distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua," kata Juru Bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom.
 
Selain itu, TPNPB OPM juga mengklaim menyandera sang pilot dan penumpangnya. Mereka menyatakan tidak akan melepaskan para sandera. 
 
"Pilotnya kami TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma  tahan dan dia menjadi sandera kami, dan penyanderaan ini merupakan kedua kalinya yang kami lakukan," jelas Sebby.
 
Meski begitu personel gabungan TNI-Polri berhasil mengevakuasi 5 penumpang pesawat Susi Air dan 15 pekerja bangunan di Nduga, Papua.
 
Kabid Humas Polda Papua Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan, kondisi penumpang pesawat Susi Air dan pekerja bangunan dalam kondisi selamat. Polri memastikan tidak ada penyanderaan kepada para warga tersebut.
 
"Lima orang penumpang pesawat Susi Air dan 15 pekerja bangunan puskesmas di Nduga saat ini dalam kondisi sehat usai dievakuasi," kata Benny kepada wartawan, Kamis (9/2).
 
Namun, saat itu keberadaan pilot belum diketahui. Setelah dilakukan penelusuran, TNI mengaku sudah berhasil mengantongi beberapa titik yang diperkirakan sebagai tempat persembunyian KKB menyandera pilot Susi Air. Namun, proses penyelamatan masih mengedepankan negosiasi demi menjaga keselamatan sang pilot.
 
"Melalui sarana yang kita miliki baik itu pesawat udara, maupun intelijen yang lain, kita sudah mengetahui beberapa lokasi di wilayah Papua yang dimungkinkan itu adalah posisinya mereka," kata Kapuspen TNI saat itu Laksamana Muda TNI Kisdiyanto.
 
Kisdiyanto mengatakan, penyergapan tidak bisa dilakukan begitu saja. Sebab, keselamatan sandera bisa terancam.
 
Setelah sebulan lebih ditawan, sang pilot dikabarkan mengalami sakit.  "Tim gabungan TNI-Polri masih kerja keras untuk menyelamatkan pilot. Kondisi kesehatan pilot menurun," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Benny.
 
Sementara, Panglima TNI saat itu Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan, ada ancaman dari KKB terhadap pilot apabila memaksakan pembebasan secara militer. Pilot akan dibunuh jika cara tersebut dilakukan.
 
"Apabila saya bebaskan dengan cara militer, saya sudah monitor dari pembicaraan nanti kalau ketemu TNI bunuh saja ini, tembak saja ini, nah nanti biar TNI yang dituduh membunuh pilot ini. Nah saya nggak mau terjadi seperti itu," kata Yudo di Mabes TNI, Jakarta Timur, Rabu (5/4).
 
Yudo mengatakan, operasi militer mampu dilakukan oleh TNI untuk pembebasan pilot. Namun, upaya persuasif tetap diutamakan demi keselamatan pilot.
 
TNI pernah berusaha melakukan upaya pembebasan dengan operasi di di Mugi-Mam, Nduga. Dalam peristiwa ini 5 anggota TNI gugur.
 
"Tim Gabungan TNI Polri berhasil menemukan 4 Prajurit TNI termasuk di dalamnya Pratu Miftahul Arifin yang dalam proses pencarian dengan kondisi meninggal dunia," kata Kapendam XVII/Cenderwasih saat itu Kolonel Kav Herman Taryaman dalam keterangan tertulis, Kamis (20/4).
 
Keempat prajurit tersebut yaitu Pratu Arifin, Pratu I, Pratu K dan Prada S. Saat ini keempat prajurit yang gugur tersebut telah dievakuasi ke RSUD Timika Kabupaten Mimika. Prajurit kelima yang ditemukan adalah Pratu F personel dari Satgas Yonif R 321/GT.
 
Sejak saat itu, personel Gabungan TNI-Polri berusaha melakukan pendekatan persuasif. Sehingga mengedepankan dialog dengan tokoh masyarakat setempat. Hingga pada akhirnya, pilot Philip akhirnya berhasil bebas.
 
 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore