
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Pexels.com/Tom Fisk)
JawaPos.com – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) umumkan perubahan lokasi pertandingan kualifikasi Piala Asia U-20 yang semula di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) ke Stadiun Madya Senayan, Jakarta, Kamis (19/9) malam.
Dilansir dari Instagram @pssi, perubahan lokasi tersebut menyusul adanya pemeliharaan besar pada Stadion Utama GBK. Untuk pertandingan kualifikasinya sendiri akan diadakan mulai tanggal 24 hingga 27 September 2024.
Namun, apakah kamu tahu kisah dibalik pembangunan Stadion Gelora Bung Karno? Pembangunan stadion tersebut sempat mendapat hambatan karena insiden kebakaran, Bagaimanakah kisah selengkapnya? Simak penjelasan berikut!
Keinginan Bung Karno Agar Indonesia Menjadi Tuan Rumah Asian Games
Dilansir dari artikel jurnal yang berjudul Sukarno dan Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan, 1959–1962, sejak gelaran pertama Asian Games tahun 1950 Indonesia sudah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah.
Akan tetapi, sebagian besar negara yang tergabung dalam Asian Games Federation (AGF) masih meragukan kemampuan Indonesia. Keraguan tersebut muncul bukan tanpa alasan, pasalnya kondisi politik Indonesia pada periode tahun 1950–1960 masih belum stabil.
Berbagai aksi pemberontakan rakyat kerap mewarnai kondisi perpolitikan Indonesia. Oleh sebab itu, selama perhelatan Asian Games II dan III Indonesia masih tidak terpilih sebagai tuan rumah.
Pada perhelatan Asian Games II tahun 1954, Filipina terpilih menjadi tuan rumah. Sementara itu, AGF memilih Tokyo sebagai lokasi gelaran Asian Games III tahun 1958.
Kemudian, Indonesia kembali mengajukan diri sebagai tuan rumah Asian Games pada sidang AGF di Tokyo tahun 1958.
Dalam sidang tersebut, Indonesia yang diwakili oleh Menteri Olahraga R. Maladi berhasil mengalahkan Pakistan dengan 22 suara, yakni 2 suara lebih unggul. Indonesia akhirnya ditetapkan sebagai tuan rumah Asian Games IV tahun 1962.
Sebagai tuan rumah, Indonesia harus mempersiapkan kebutuhan kompetisi tersebut. Hal ini dianggap oleh Soekarno sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi Indonesia ke mata dunia.
Oleh karena itu, Bung Karno membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) di bawah pimpinan Maladi untuk membangun sebuah kawasan multi-sport complex dan mempersiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan, termasuk Stadion.
Dilansir dari buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, Soekarno menjadikan olahraga sebagai instrumen revolusi yang multikompleks, baik ke dalam maupun luar negeri dan salah satu agenda utamanya adalah Asian Games.
Dengan kata lain, Asian Games merupakan agenda revolusi dengan tiga poin utama, yakni mengangkat nama Indonesia di dunia Internasional, menjadi sarana pembentukkan solidaritas dan kebanggaan nasional, menegaskan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Senayan Dipilih sebagai Lokasi Pembangunan Gelora Bung Karno

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
